Siapa yang Sebenarnya Dirugikan?
Di balik keputusan seseorang batal kuliah, ternyata ada dampak lain yang sering luput dibahas. Dalam mekanisme SNBP, rekam jejak sekolah menjadi salah satu bahan evaluasi pada tahun-tahun berikutnya. Jika terlalu banyak siswa yang lolos tetapi memilih tidak mendaftar ulang, peluang adik kelas dari sekolah yang sama bisa ikut terdampak.
Meski demikian, menurut Suyitno, mekanisme tersebut tidak diterapkan secara kaku oleh perguruan tinggi. “Sudah. Jadi kami dapat datanya kan dari pusat yang blacklist itu dan ya kami terapkan,” imbuhnya.
Ia juga menegaskan bahwa sekolah tidak otomatis terkena sanksi hanya karena ada beberapa siswanya yang mengundurkan diri. “Nggak secara begitu ketat (blacklist tahun berikutnya), saklek itu tidak. Sepanjang tidak parah ya. Parah itu artinya seperti main-main. Tapi, selama ini yang daftar di Untidar itu tidak ada yang berpikirnya itu hanya coba-coba main-main,” kata dia.
Sementara itu, kursi yang kosong tidak dibiarkan begitu saja. Untidar mengalihkan sisa kuota tersebut ke jalur seleksi berikutnya, sehingga tetap dapat dimanfaatkan oleh calon mahasiswa lain.
Mungkin yang Perlu Dievaluasi Bukan Hanya Peserta
Selama ini, perdebatan soal peserta yang batal daftar ulang sering berhenti pada satu kesimpulan, mereka dianggap menyia-nyiakan kesempatan. Padahal, angka 113 ribu menunjukkan bahwa persoalannya jauh lebih kompleks daripada sekadar perubahan niat.
Bisa jadi yang perlu dievaluasi bukan hanya peserta, tetapi juga sistem penerimaan mahasiswa itu sendiri. Mengapa informasi mengenai bantuan biaya baru diketahui setelah seleksi selesai? Mengapa banyak calon mahasiswa baru mengetahui besaran UKT ketika mereka sudah dinyatakan diterima? Mengapa biaya hidup di luar uang kuliah belum menjadi bagian dari pertimbangan sejak awal proses seleksi?
Selama pertanyaan-pertanyaan itu belum terjawab, kemungkinan besar fenomena ribuan mahasiswa yang batal kuliah akan terus berulang setiap tahun. Sebab pada akhirnya, lolos seleksi hanyalah satu tahap dalam perjalanan menuju bangku kuliah.
Bahkan yang jauh lebih menentukan adalah apakah seseorang benar-benar memiliki kesempatan untuk menjalaninya.






