Oleh: Randy Aprialdi*

Setiap musim Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB), ada satu narasi yang hampir selalu muncul. Ketika seseorang dinyatakan lolos Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP), ucapan selamat berdatangan. Di media sosial, status “lolos PTN” sering dianggap sebagai garis akhir dari perjuangan panjang selama tiga tahun di bangku SMA.
Padahal, kenyataannya tidak sesederhana itu. Tahun ini, Panitia SNPMB 2026 mengungkap fakta yang cukup mengejutkan. Sebanyak 113 ribu calon mahasiswa yang telah dinyatakan lolos melalui jalur SNBP ternyata tidak melakukan daftar ulang.
Angka itu memunculkan pertanyaan besar. Mengapa begitu banyak orang rela melepas kursi yang sebelumnya diperebutkan jutaan peserta lain? Jawaban paling mudah tentu menyebut mereka tidak serius sejak awal. Ada pula yang menganggap mereka telah “mengambil jatah” orang lain.
Namun, kalau persoalannya sesederhana itu, mungkin jumlahnya tidak akan mencapai ratusan ribu. Fenomena ini justru memperlihatkan bahwa setelah seseorang dinyatakan lolos perguruan tinggi negeri, masih ada banyak tembok yang harus dilewati sebelum benar-benar menjadi mahasiswa.
Lolos Bukan Berarti Mampu Kuliah
Ketua Umum Tim Penanggung Jawab SNPMB 2026, Eduart Wolok, mengungkap beberapa penyebab utama peserta batal melakukan registrasi ulang. Sebagian diterima di program studi yang sebenarnya bukan pilihan utama sehingga memutuskan mengejar jurusan impian melalui jalur lain atau perguruan tinggi swasta.
Sebagian lainnya gagal memperoleh KIP Kuliah setelah hasilnya diumumkan belakangan. Artinya, mereka baru mengetahui bahwa biaya kuliah harus ditanggung sendiri ketika kesempatan mendaftar bantuan sudah tertutup. Masalah lain yang tak kalah sering muncul adalah besaran Uang Kuliah Tunggal (UKT).
Tidak sedikit calon mahasiswa yang baru menyadari biaya pendidikan jauh lebih tinggi dari perkiraan setelah proses seleksi selesai. Belum lagi biaya hidup bagi mereka yang harus merantau. UKT rendah memang membantu, tetapi uang kos, makan, transportasi, hingga kebutuhan sehari-hari sering kali justru menjadi beban terbesar bagi keluarga.
Ironisnya, hambatan-hambatan itu baru benar-benar terlihat setelah seseorang dinyatakan diterima.
Ketika Pilihan Berubah di Tengah Jalan
Fenomena serupa juga terlihat di Universitas Tidar (Untidar), Magelang. Di kampus tersebut, terdapat 60 dari 936 peserta jalur SNBP yang tidak melakukan daftar ulang. Pada jalur SNBT, jumlahnya bahkan mencapai 347 dari 2.418 peserta yang diterima.
“SNBT (17.212 pendaftar), kita daya tampungannya 2.418. Yang daftar ulang 2.071. Yang tidak daftar ulangan 347, presentasenya 14,4 persen. Ya, jadi 14,4 persen,” ujar Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kerja Sama Untidar, Prof. Suyitno seperti dikutip dari situs Masuk PTN.
Menurutnya, pihak kampus sebenarnya tidak mengetahui alasan pasti setiap calon mahasiswa yang mundur karena peserta memang tidak diwajibkan memberikan penjelasan. Namun, ia memperkirakan ada beberapa penyebab yang selama ini cukup sering terjadi.
“Yang mungkin pertimbangannya itu dulu milih itu, tapi kemudian setelah ketompo (diterima) pikir-pikir. Namanya orang sekitar seribuan itu kan ya nggak bisa, semuanya orang konsisten. Orang berubah pikiran dalam hitungan bulan atau kalau tidak mereka diterima di perguruan tinggi kedinasan,” ujar Suyitno.
Artinya, keputusan untuk tidak mendaftar ulang tidak selalu lahir dari sikap main-main. Ada yang berubah prioritas, ada yang memperoleh kesempatan lain, ada pula yang menghadapi realitas ekonomi yang berbeda dari perkiraan ketika pertama kali memilih jurusan.
Siapa yang Sebenarnya Dirugikan?
Bersambung ke halaman selanjutnya –>






