More

    Kenapa Mahasiswa Sekarang Lebih Takut Menganggur daripada Tidak Lulus?

    Oleh: Randy Aprialdi

    Ilustrasi.

    Kalau pertanyaan ini diajukan sepuluh tahun lalu, mungkin sebagian besar mahasiswa akan menjawab bahwa ketakutan terbesar mereka adalah skripsi. Dosen pembimbing yang sulit ditemui, revisi yang tak kunjung selesai, hingga ancaman molor wisuda menjadi sumber kecemasan yang hampir dialami setiap mahasiswa tingkat akhir. 

    Lulus tepat waktu dianggap sebagai kemenangan besar karena setelah itu kehidupan diyakini akan menjadi lebih baik. Gelar sarjana dipandang sebagai tiket menuju pekerjaan yang layak dan masa depan yang lebih cerah. Namun suasana itu perlahan berubah. 

    - Advertisement -

    Di banyak kampus hari ini, mahasiswa masih takut tidak lulus, tetapi ketakutan itu tidak lagi menjadi yang utama. Justru yang lebih sering menghantui adalah kehidupan setelah wisuda. Pertanyaan seperti “Nanti kerja di mana?”, “Kalau sudah lulus tapi belum diterima kerja bagaimana?”, atau “Apa gunanya IPK tinggi kalau tetap menganggur?” semakin sering terdengar dalam obrolan mahasiswa.

    Perubahan ini bukan sekadar perasaan. Ia lahir dari kenyataan yang sedang dihadapi lulusan perguruan tinggi di Indonesia.

    Wisuda Bukan Lagi Garis Akhir

    Selama bertahun-tahun, masyarakat Indonesia hidup dengan keyakinan bahwa pendidikan tinggi adalah jalan paling masuk akal untuk memperbaiki kehidupan. Orang tua rela menjual sawah, menggadaikan perhiasan, bahkan berutang agar anaknya bisa kuliah. 

    Logikanya sederhana, semakin tinggi pendidikan, semakin besar peluang memperoleh pekerjaan yang layak. Sayangnya, rumus itu tidak lagi sesederhana dulu. Jumlah lulusan perguruan tinggi terus bertambah setiap tahun, tetapi pertumbuhan lapangan kerja tidak selalu mampu mengimbanginya. 

    Akibatnya, persaingan menjadi jauh lebih ketat dibanding satu dekade lalu. Gelar sarjana yang dulu menjadi pembeda, kini berubah menjadi sesuatu yang nyaris dimiliki semua pelamar. Data Badan Pusat Statistik (BPS) bahkan menunjukkan masih ada sekitar lebih dari satu juta lulusan universitas yang belum memperoleh pekerjaan. 

    Angka tersebut memang tidak berarti semua sarjana akan menganggur, tetapi cukup menggambarkan bahwa ijazah saja tidak lagi cukup menjadi jaminan memasuki dunia kerja. Fenomena ini kemudian melahirkan kecemasan baru di kalangan mahasiswa. Mereka mulai menyadari bahwa perjuangan sebenarnya mungkin baru dimulai setelah toga dilepas.

    Perubahan cara berpikir itu bisa dilihat hampir di semua kampus. Jika dulu mahasiswa berlomba mengejar IPK setinggi mungkin, sekarang mereka juga berlomba mengumpulkan pengalaman. Belum lulus, mereka sudah mengikuti magang. Setelah magang pertama selesai, mereka mencari magang kedua. 

    Di sela-sela itu mereka mengikuti pelatihan, webinar, sertifikasi, kompetisi, organisasi, hingga pekerjaan lepas. Bukan semata-mata karena ingin terlihat sibuk, melainkan karena sadar bahwa dunia kerja tidak lagi hanya bertanya soal nilai akademik.

    Kalimat “Fresh graduate diprioritaskan memiliki pengalaman kerja” mungkin terdengar lucu, tetapi itulah realitas yang sering ditemui di berbagai lowongan pekerjaan. Banyak perusahaan menginginkan lulusan yang siap bekerja sejak hari pertama. Akibatnya, mahasiswa merasa harus membangun portofolio bahkan sebelum wisuda.

    Tidak mengherankan jika hari ini banyak mahasiswa lebih bangga menunjukkan pengalaman magangnya di LinkedIn dibanding nilai IPK yang mereka peroleh.

    Dunia Kerja Sedang Berubah

    Bersambung ke halaman selanjutnya –>

    - Advertisement -

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here