Oleh: Ilham Nuri Sabili*

Basa-basi dengan orang asing sudah menjadi bagian dari budaya orang Indonesia, bertemu ketika mengantre, beristirahat, atau duduk berdempetan di transportasi umum. Format pertanyaan paling default yang sering dilontarkan orang lain kepadaku adalah, “Kuliah atau kerja, Mas?”
Sebagai mahasiswa yang lumayan sopan dan tau diri, tentu kujawab singkat, “Kuliah, Pak, Bu, Mas, Mbak.” Mungkin jawabanku kurang lengkap dan belum memuaskan rasa penasaran beliau, sampai akhirnya ditimpali pertanyaan ronde kedua, “Di UNS, Mas?”
Jannn tenann…. Dengan senyum getir aku pun menjawab, “UIN.”
Aku tahu UIN bukan di Solo, melainkan di Sukoharjo. Aku yakin, mahasiswa UMS pasti akan menjawab “Solo” kalau ditanya kuliah di mana. Alasan kenapa aku selalu menjawab “Solo” ketika ditanya orang asing adalah agar ia tidak lanjut bertanya. Kupikir dengan menjawab “Solo”, akan langsung muncul banyak nama kampus di benak orang, sehingga mereka tidak perlu menggali lebih jauh soal almamaterku. Tapi entah kenapa, respons wajibnya selalu sama, “UNS, ya?”
Ini tidak hanya terjadi sekali atau dua kali, tetapi hampir semua orang menebak seperti itu. Kenapa mereka semua menebak UNS? Sampai-sampai aku berani menyebutnya sebagai sebuah fenomena.
Tentu bukan berarti aku tidak suka dengan UNS, aku justru menghormatinya. Reputasi UNS memang sudah dibangun lama, didukung pemberitaan media, prestasi, ukuran kampus, dan alumni yang tersebar di mana-mana. Wajar jika nama itu mencuat. Tapi yang membuatku heran adalah, kenapa nama kampus lain nyaris tidak pernah muncul dalam tebakan?
Solo dan sekitarnya memiliki puluhan perguruan tinggi. Coba kita main tebak-tebakan sejenak. Kenapa bukan UMS yang kampusnya megah di tengah kota dan ribuan mahasiswanya lalu-lalang tiap hari? Kenapa bukan ISI yang unik dan punya reputasi seni hingga nasional? Kenapa bukan UIN yang setiap tahun meluluskan ribuan sarjana? Atau kenapa bukan kampus swasta lain yang jumlahnya lebih banyak daripada kampus negeri? Dalam percakapan sehari-hari, nama-nama itu seperti tersedot ke dalam lubang hitam. Semua mengerucut menjadi satu kata, UNS.
Di sinilah letak masalahnya. Tebakan “UNS?” bukan sekadar cerminan popularitas, melainkan gejala dari pola pikir yang lebih dalam. Masyarakat kita gemar menggunakan jalan pintas mental. UNS adalah default setting, kategori paling dominan yang tersimpan di kepala kebanyakan orang ketika mendengar kata “kuliah” dan “Solo”. Publik hanya menyerap hasil akhir dari bertahun-tahun akumulasi reputasi tanpa merasa perlu mengenali penghuni ekosistem pendidikan yang lain.
Dan yang lebih meresahkan, kebiasaan ini bukan cuma terjadi di Solo.
Bersambung ke halaman selanjutnya –>






