More

    Kampus di Solo bukan cuma UNS

    Coba kita geser sedikit ke kota-kota lain. Sebut Bandung, dan orang langsung menebak ITB. Sebut Yogyakarta, tebakan otomatis jatuh ke UGM. Sebut Malang, Brawijaya jawabannya. Seakan-akan kota-kota itu hanya punya satu institusi, satu nama yang mewakili seluruh potret pendidikan tingginya. Padahal Bandung juga punya Unpad, Unpar, Maranatha, dan puluhan kampus lain yang hidup dan bergerak. Yogyakarta bukan cuma UGM, ada UII, UMY, UAJY, ISI Jogja, dan masih banyak lagi. Malang juga punya UMM, UM, ITN, Unisma, dan jejaring kampus lain yang tak kalah aktif.

    Kita terlalu sering membayangkan sebuah kota lewat satu institusi. Seolah lanskap pendidikan di kota itu begitu sempit, padahal ekosistemnya luas dan beragam. Ini bukan sekadar soal kampus mana yang paling top of mind, melainkan tentang bagaimana otak kita menyederhanakan realitas secara berlebihan. Akibatnya, kita tanpa sadar menghapus nama-nama lain yang selama ini juga ikut membangun kota tersebut.

    Kembali ke Solo. Kampus-kampus lain seperti angin, eksis tetapi tak terlihat. Prestasi mereka sering tenggelam oleh bayang-bayang satu nama. Lebih celaka lagi, pola pikir ini melahirkan label kualitas instan. Orang lebih mudah menyematkan predikat “pintar”, “serius”, atau “berkualitas” pada almamater, bukan pada individu. Individu jadi “nebeng” reputasi institusi, sebuah ilusi yang terus dipelihara.

    - Advertisement -

    Dari situlah muncul rasa minder. Mahasiswa dari kampus yang tak masuk dalam radar top of mind masyarakat sering kali merasa identitas kampusnya adalah label rendah yang membelenggu. Orang-orang menjadi bias dalam menilai, almamater terasa lebih penting sebelum kemampuan individu itu sendiri. Kualitas kampus tidak mencerminkan kualitas mahasiswanya, begitu pun sebaliknya.

    (Contoh yaa) Bayangkan seseorang yang kuliah di UNS tetapi malas belajar, jarang masuk kelas, dan hanya berharap ijazah. Di sisi lain, ada mahasiswa dari kampus kecil yang tekun meneliti, aktif menulis, dan berprestasi di tingkat nasional. Apakah nama kampus masih cukup untuk menyimpulkan siapa yang lebih berkualitas?

    Tentu tidak. Atau seharusnya tidak.

    Bersambung ke halaman selanjutnya –>

    - Advertisement -

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here