More

    Kenapa Gelar Sarjana Tidak Lagi Menjamin Naik Kelas?

    Penulis: Randy Aprialdi*

    Ilustrasi.

    Dulu, ada satu kalimat yang begitu akrab di telinga anak-anak Indonesia. “Yang penting kuliah dulu. Nanti hidupmu akan lebih baik.” Kalimat itu bukan sekadar nasihat orang tua. Ia menjadi semacam kontrak sosial. Negara membangun sekolah dan kampus, keluarga bekerja keras membayar biaya pendidikan, sementara anak-anak belajar dengan keyakinan bahwa setelah wisuda, kehidupan akan naik satu tingkat.

    Naik kelas secara ekonomi, sosial, dan dalam hidup. Tetapi beberapa tahun terakhir, janji itu mulai terdengar semakin rapuh. Banyak sarjana justru lulus dengan satu pertanyaan yang tidak pernah diajarkan jawabannya di ruang kuliah, “Setelah ini saya harus kerja di mana?”

    - Advertisement -

    Pertanyaan itu bukan muncul karena mereka malas mencari pekerjaan. Masalahnya, pekerjaan yang tersedia tidak selalu sebanding dengan jumlah lulusan yang setiap tahun keluar dari kampus. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah masyarakat Indonesia yang berstatus pengangguran sebanyak 7,24 juta orang pada Februari 2026

    Porsi pengangguran ini mencapai 4,67% dari total angkatan kerja sebanyak 154,91 juta orang. “Angkatan kerja yang tidak terserap pasar kerja atau menjadi pengangguran, yaitu sebanyak 7,24 juta orang,” ujar Kepala BPS, Amalia Adiniggar Widyasanti, Selasa (5/5).

    Angka itu tidak berarti kuliah menjadi sia-sia. Namun ia memperlihatkan satu kenyataan, yaitu memiliki gelar sarjana tidak lagi otomatis berarti memiliki akses yang lebih mudah menuju pekerjaan.

    Masalahnya bukan semata-mata jumlah lapangan kerja. Dunia kerja berubah jauh lebih cepat dibanding ruang kelas. Banyak perusahaan kini lebih menghargai pengalaman proyek, kemampuan memecahkan masalah, portofolio, hingga kemampuan menggunakan teknologi seperti AI dibanding sekadar melihat IPK di transkrip nilai.

    Sementara itu, di banyak kampus, mahasiswa masih sibuk mengejar nilai, menghafal teori, dan menyelesaikan tugas yang bahkan belum tentu relevan dengan kebutuhan industri. Lulus tepat waktu masih dianggap prestasi. Padahal perusahaan lebih sering bertanya,  “Pernah mengerjakan apa?”, Bukan “IPK kamu berapa?”

    Akibatnya, banyak lulusan baru mengalami apa yang disebut skill mismatch kompetensi yang dimiliki tidak sepenuhnya sesuai dengan kebutuhan dunia kerja. Persoalan ketidaksesuaian antara kualitas lulusan dan kebutuhan pasar kerja juga menjadi perhatian berbagai pihak.

    Gelar Masih Penting, Tapi Tidak Lagi Cukup

    Bersambung ke halaman selanjutnya –>

    - Advertisement -

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here