Masalahnya bukan karena UNS terlalu besar. Masalahnya adalah kita terlalu sering mengecilkan kampus-kampus lain hanya karena namanya tidak sepopuler UNS. Begitu pula dengan mahasiswanya, kita terlalu mudah mengukur seseorang dari nama institusi, seakan-akan almamater adalah ringkasan mutlak dari kapasitas pribadi.
Maka, mungkin sudah saatnya kita mengubah sedikit saja kebiasaan basa-basi ini. Bukan untuk menghilangkannya, karena basa-basi tetap perekat sosial yang hangat, tetapi untuk membuatnya lebih adil. Pertanyaan follow-up yang lebih baik bukan “UNS, ya?”, melainkan yang lebih terbuka, “Kampus mana?” Siapa tahu, jawabannya akan membuka percakapan yang lebih kaya, tentang kampus-kampus yang selama ini tak terdengar, dan tentang manusia-manusia di dalamnya yang selama ini tak terlihat. Sebab almamater hanya tempat memulai perjalanan, bukan garis akhir yang menentukan siapa kita.
*Penulis adalah mahasiswa prodi Sastra Inggris dari UIN Raden Mas Said Surakarta. Tulisan sepenuhnya mmenjadi tanggung jawab Penulis.






