Koordinator Desa KKN Posko 28, Muh. Ikbal Gusti, mengatakan keterlibatan mahasiswa merupakan bagian dari implementasi tridharma perguruan tinggi melalui kerja nyata bersama masyarakat.
“Kami tidak hanya hadir sebagai penyelenggara seminar, tetapi berkomitmen sebagai mitra pendamping. Mulai dari pengurusan NIB, pembuatan profil digital, hingga pendampingan menghitung biaya usaha. Harapannya, UMKM Samaulue semakin siap dan percaya diri menghadapi persaingan,” katanya.
Sementara itu, Sekretaris Desa Samaulue, Imam Sasmawan, mengapresiasi inisiatif mahasiswa dan dosen pembimbing dalam mendampingi pelaku UMKM. Ia berharap kolaborasi tersebut tidak berhenti pada kegiatan KKN, tetapi dapat berkembang menjadi program pendampingan berkelanjutan yang mendukung agenda pembangunan ekonomi desa.
“Pemerintah desa akan terus membuka ruang bagi inovasi anak muda dan akademisi. Kami melihat kegiatan ini sebagai momentum mempercepat digitalisasi dan profesionalisme UMKM yang menjadi salah satu penopang ekonomi masyarakat,” ujarnya.
Kepala Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Samaulue, Drs. Muh. Rais, menambahkan bahwa penguatan UMKM membutuhkan dukungan kebijakan dan penganggaran yang konsisten. Menurutnya, UMKM merupakan bagian penting dari fondasi kemandirian ekonomi desa.
“Sebagai unsur legislatif desa, kami berkomitmen untuk mendorong kebijakan dan alokasi anggaran yang berpihak pada pengembangan UMKM. Pendampingan mahasiswa terhadap legalitas dan perhitungan biaya usaha merupakan langkah strategis,” tuturnya.
Kegiatan tersebut menunjukkan bahwa pengembangan UMKM desa membutuhkan kolaborasi lintas pihak. Mahasiswa dan perguruan tinggi dapat berperan sebagai katalisator pengetahuan dan inovasi, sementara pemerintah desa menyediakan dukungan kebijakan dan ekosistem yang memungkinkan pelaku usaha berkembang. Melalui sinergi tersebut, Desa Samaulue diharapkan tidak hanya memiliki UMKM yang mampu bertahan, tetapi juga semakin adaptif, profesional, inovatif, dan mampu memperluas pasar.






