More

    Ospek Tanpa Perundungan, Ketika Tradisi Kampus Mulai Berubah

    Dari Perpeloncoan ke Adaptasi

    Perubahan cara pandang terhadap ospek juga terlihat dari sejumlah pelaksanaan PKKMB tahun ini. Universitas Muhammadiyah, misalnya, mengusung pendekatan humanis dalam PKKMB 2026. Panitia menempatkan mahasiswa baru sebagai individu yang perlu dihargai dan dibantu beradaptasi, bukan objek yang harus “ditempa” melalui tekanan atau perlakuan keras.

    Sementara itu, Universitas Negeri Surabaya (Unesa) yang menyambut lebih dari 20 ribu mahasiswa baru juga menyiapkan langkah untuk mencegah perundungan dalam pelaksanaan PKKMB. Pendekatan semacam ini menunjukkan bahwa ukuran keberhasilan orientasi tidak lagi ditentukan oleh seberapa keras mahasiswa baru diperlakukan atau seberapa banyak aturan yang mampu mereka ikuti.

    - Advertisement -

    Namun yang lebih penting adalah apakah setelah mengikuti PKKMB, mahasiswa baru menjadi lebih memahami lingkungan kampus dan merasa memiliki ruang yang aman untuk berkembang. Orientasi juga semakin diarahkan untuk memperkenalkan mahasiswa pada berbagai kesempatan pengembangan diri di luar ruang kelas.

    Brian mendorong mahasiswa baru untuk tidak hanya berkonsentrasi pada kegiatan akademik. Mereka juga diharapkan aktif mengikuti organisasi dan berbagai kegiatan kemahasiswaan agar kemampuan teknis serta kemampuan nonteknis dapat berkembang selama kuliah.

    Hal ini penting karena kehidupan perguruan tinggi tidak hanya berkaitan dengan nilai ujian dan tugas kuliah. Mahasiswa juga perlu belajar berkomunikasi, bekerja dalam tim, membangun jejaring, mengambil keputusan, serta beradaptasi dengan lingkungan yang berbeda.

    Dengan demikian, PKKMB dapat menjadi pintu masuk untuk memperkenalkan mahasiswa pada kehidupan kampus secara lebih utuh. Bagi mahasiswa baru, memasuki perguruan tinggi merupakan fase transisi besar. Mereka harus meninggalkan pola belajar di sekolah dan mulai menghadapi tuntutan untuk lebih mandiri.

    Oleh kaena itu, pengalaman pertama mereka di kampus memiliki arti penting. Lingkungan yang ramah dapat membuat mahasiswa lebih percaya diri untuk bertanya, berkenalan, mengikuti kegiatan, dan mencari bantuan ketika menghadapi kesulitan.

    Sebaliknya, pengalaman orientasi yang dipenuhi intimidasi berpotensi membuat mahasiswa menganggap kekerasan dan senioritas sebagai bagian normal dari kehidupan kampus. Padahal, kampus semestinya menjadi tempat mahasiswa belajar menghargai perbedaan, menyampaikan pendapat, dan menyelesaikan persoalan tanpa kekerasan.

    Contoh lainnya terlihat dalam PKKMB Universitas Negeri Surabaya. Kampus tersebut bahkan mendeklarasikan komitmen untuk menciptakan lingkungan yang aman, nyaman, dan inklusif, termasuk bagi mahasiswa penyandang disabilitas.

    Tradisi Boleh Berubah, Esensi Tetap Ada

    Bersambung ke halaman selanjutnya –>

    - Advertisement -

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here