
Belajar dari Praktisi dengan Fasilitas Berstandar Industri
Kualitas penyelenggaraan PPAr UPH didukung oleh dosen profesional dan fasilitas pembelajaran yang dirancang menyerupai dunia praktik. Andreas menjelaskan bahwa seluruh dosen PPAr UPH merupakan akademisi sekaligus praktisi yang telah memiliki STRA dan aktif dalam organisasi profesi.
Proses pembelajaran juga ditunjang berbagai fasilitas laboratorium dan studio khusus, seperti Laboratorium Kayu, Laboratorium Metal, Laboratorium Pemodelan Digital yang dilengkapi teknologi 3D printing, CNC cutting, dan laser cutting, serta laboratorium komputer dengan perangkat lunak berlisensi resmi.
“Melalui kolaborasi ini, mahasiswa tidak hanya belajar di ruang kelas, tetapi juga memperoleh pengalaman yang dekat dengan praktik nyata di dunia kerja,” ujar Andreas.
Kurikulum Berstandar Nasional dan Internasional
Selain didukung tenaga pengajar dan fasilitas yang mumpuni, PPAr UPH juga menghadirkan kurikulum yang dirancang sesuai kebutuhan industri dan standar profesi global. Salah satu fokus pembelajarannya adalah perancangan bangunan publik multifungsi di kawasan perkotaan yang dipadukan dengan pemanfaatan teknologi digital.
“Kami tidak hanya mengajarkan bagaimana merancang bangunan dalam konteks lingkungan perkotaan, tetapi juga membekali mahasiswa dengan pendekatan desain komputasional dan fabrikasi digital untuk menghasilkan solusi arsitektur yang inovatif serta dapat diwujudkan menjadi prototipe. Integrasi antara perancangan kota, teknologi digital, dan implementasi nyata inilah yang menjadi salah satu ciri khas PPAr UPH,” kata Andreas.
Andreas menjelaskan bahwa PPAr UPH memiliki kurikulum yang ditempuh selama dua semester atau 36 SKS. Kurikulum ini disusun berdasarkan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI), standar kompetensi IAI, kompetensi Union Internationale des Architectes (UIA), serta Student Performance Criteria dari Korean Architectural Accrediting Board (KAAB), sehingga selaras dengan standar profesi di tingkat nasional maupun internasional.
Selain kompetensi teknis, mahasiswa juga dibekali kemampuan komunikasi, kepemimpinan, kerja sama tim, etika profesi, serta pemahaman mengenai regulasi bangunan dan aspek keselamatan. Selama proses pembelajaran, mahasiswa juga mendapatkan pendampingan intensif dari arsitek profesional dengan rasio satu dosen untuk enam mahasiswa, sehingga proses belajar berlangsung lebih personal dan efektif.
Membuka Peluang Karier yang Lebih Luas
Bersambung ke halaman selanjutnya –>






