More

    Tanggung Jawab Mahasiswa Ketika Berinteraksi di Ruang Digital

    Jejak Digital Membuat Percakapan Tidak Benar-Benar Hilang

    Ruang digital juga memiliki karakter yang berbeda dari percakapan tatap muka. Pesan dapat disimpan, diteruskan, di-screenshot, atau muncul kembali ketika seseorang sudah lupa pernah mengirimkannya. Inilah yang membuat jejak digital perlu diperhatikan.

    Bukan berarti setiap mahasiswa harus takut berbicara atau berhenti menggunakan media sosial. Justru, mahasiswa perlu memahami bahwa kebebasan berekspresi berjalan bersama tanggung jawab. Sebuah unggahan yang dibuat saat emosi dapat dibaca ribuan orang. 

    - Advertisement -

    Komentar yang awalnya ditujukan kepada satu teman dapat tersebar ke luar konteks. Pesan dalam grup yang dianggap tertutup pun dapat keluar dari grup. Oleh karena itu, prinsip yang sederhana tetapi penting adalah jangan menulis sesuatu di internet yang tidak siap dipertanggungjawabkan ketika konteksnya berubah.

    Budaya bercanda merupakan bagian dari kehidupan mahasiswa. Dalam pertemanan, saling mengejek bahkan bisa menjadi bentuk kedekatan. Masalah muncul ketika candaan menggunakan orang lain sebagai objek penghinaan atau menyentuh hal-hal yang bersifat sensitif.

    Candaan seksual, misalnya, dapat membuat seseorang merasa direndahkan atau tidak aman. Begitu pula dengan komentar mengenai tubuh, orientasi seksual, kondisi mental, ras, agama, atau identitas seseorang. Mahasiswa juga perlu memahami bahwa diamnya seseorang tidak otomatis berarti ia nyaman.

    Dalam sebuah grup, seseorang bisa saja tidak membalas karena merasa sungkan, takut dikucilkan, atau tidak tahu harus merespons seperti apa. Karena itu, ukuran kepantasan tidak seharusnya hanya didasarkan pada ada atau tidaknya protes dari orang yang menjadi sasaran.

    Budaya pertemanan yang sehat justru memberikan ruang bagi seseorang untuk mengatakan bahwa sebuah candaan sudah melewati batas. Persoalan lain yang sering luput adalah peran anggota grup lainnya. Ketika seseorang mengirim komentar yang merendahkan orang lain, anggota grup tidak selalu harus ikut menertawakan atau menanggapi. 

    Mereka dapat memilih untuk tidak memperkuat perilaku tersebut. Respons sederhana seperti menghentikan percakapan, mengingatkan teman, atau melaporkan konten yang bermasalah dapat menjadi bagian dari upaya menciptakan ruang digital yang lebih aman.

    Dalam konteks kampus, tanggung jawab tersebut semakin penting karena interaksi digital sering kali berkaitan dengan kehidupan akademik dan organisasi. Grup kelas, organisasi mahasiswa, kepanitiaan, hingga komunitas kampus dapat mempertemukan mahasiswa dengan orang-orang yang memiliki latar belakang dan tingkat kenyamanan yang berbeda.

    Membiarkan perilaku bermasalah terus berlangsung karena dianggap “cuma bercanda” pada akhirnya dapat membuat perilaku tersebut dianggap normal.

    Ada Aturan yang Mengatur Lingkungan Perguruan Tinggi

    Bersambung ke halaman selanjutnya –>

    - Advertisement -

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here