More

    Unpad Dorong Ilmu Kampus Berdampak bagi Masyarakat

    BANDUNG, KabarKampus – Universitas Padjadjaran (Unpad) menunjukkan upaya membawa pengetahuan dan keilmuan kampus lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat. Hal itu terlihat dari dua kegiatan yang dilakukan sivitas akademika Unpad, mulai dari pengembangan teknologi untuk menjaga warisan budaya hingga pengabdian mahasiswa Fakultas Hukum di Desa Mekarwangi, Kabupaten Garut.

    Di Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom), perhatian diarahkan pada tantangan menjaga warisan budaya di tengah perkembangan teknologi digital. Sementara itu, mahasiswa Fakultas Hukum (FH) Unpad terjun langsung ke masyarakat melalui program Fakultas Hukum Unpad Mengabdi (FHUM) 2026 dengan menangani berbagai persoalan administrasi dan layanan publik.

    Kedua kegiatan tersebut memperlihatkan bagaimana pengetahuan yang berkembang di perguruan tinggi dapat diterapkan untuk menjawab persoalan yang dihadapi masyarakat. Persoalan preservasi budaya menjadi salah satu perhatian Dr. Ute Lies Siti Khadijah, M.Si., dari Fikom Unpad. 

    - Advertisement -

    Dalam Orasi Ilmiah Dies Natalis ke-66 Fikom Unpad, ia membawakan tema “Menghidupkan Masa Silam, Menenun Masa Depan: Preservasi Warisan Kultural sebagai Fondasi Komunikasi Berkelanjutan”. Dalam orasinya, Ute menyoroti kondisi paradoks di tengah perkembangan teknologi informasi, Senin (21/9). 

    Kemampuan manusia untuk menyimpan dan mengakses informasi terus meningkat, tetapi kelimpahan tersebut tidak selalu berbanding lurus dengan pemahaman terhadap sejarah dan kebudayaan. “Informasi melimpah ruah, namun pemahaman peradaban kian mengering,” ujar Ute dalam orasinya seperti dikutip dari RRI.

    Menurutnya, warisan budaya perlu dipandang sebagai pengetahuan yang masih memiliki relevansi bagi kehidupan masyarakat, bukan sebatas peninggalan masa lalu yang disimpan dalam arsip atau museum. Naskah kuno, tradisi lisan, pranata adat, serta berbagai peninggalan budaya menyimpan pesan dari generasi terdahulu. 

    Oleh karena itu, proses digitalisasi harus tetap mempertahankan konteks dan makna yang melekat pada warisan tersebut. Teknologi kecerdasan artifisial (AI) pun membuka berbagai kemungkinan baru. Pemanfaatannya dapat diarahkan untuk membantu membaca dan mentranskripsikan aksara kuno, menerjemahkan bahasa daerah yang sudah jarang digunakan, merekonstruksi artefak yang mengalami kerusakan, hingga membuat digital twin dari situs bersejarah.

    Bersambung ke halaman selanjutnya –>

    - Advertisement -

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here