
YOGYAKARTA, KabarKampus – Menjelang pemilihan Calon Presiden (Capres) dan Wakil Presiden (Cawapres) pada bulan April 2019, masyarakat disibukkan dengan berbagai isu politik. Banyak dari masyarakat terkotak-kotakan dengan isu tersebut.
Menurut Dr. Haedar Nashir, M.Si., Ketua Umum PP Muhammadiyah, kondisi menjelang Pilpres telah menimbulkan banyak ketegangan, bahkan timbul dalam keseharian dan membesar menjadi konflik. Kondisi tersebut menjadi tanda masyarakat memerlukan pencerahan agar meraka dapat ‘melihat’ dengan lebih baik.
Ditambah lagi, kata Haedar, ayat-ayat seringkali hanya dikutip untuk kepentingan tertentu atau bahkan digunakan untuk menyulut kemarahan, kebencian dan pertikaian. Bukan hanya pada isu sosial politik tapi juga pada aspek kehidupan kita sebagai orang beragama.
“Kita jadi intoleran terhadap perbedaan misalnya. Padahal ketika Islam dimaknai secara kontemplatif, agama ini menuntun kita untuk menjadi pribadi yang berpikir. Ini yang ingin kita lakukan, mengembalikan Islam pada nilainya yang luhur dan fundamental,” papar Haedar dalam Seminar Pra-Tanwir Muhammadiyah dengan tema “Beragama yang Mencerahkan Dalam Perspektif Politik Kebangsaan” di Kampus UMY seperti disebut dilaman UMY, Senin, (11/01/2019).
Padahal, ungkap Haedar, Islam sebagai sebuah agama hadir sebagai pencerahan yang dicerminkan melalui ayat pertama yang diturunkan dalam wahyu kepada Nabi Muhammad shalallahu ‘alayhi wassalam. “Iqra’, ayat tersebut turun ketika Nabi Muhammad shalallahu ‘alayhi wassalam sedang risau terhadap kondisi masyarakat Arab saat itu.
“Keadaan masyarakat Arab saat itu dapat dideskripsikan dengan kata dzulumat yang diartikan sebagai kegelapan baik dalam kultural hingga struktural. Ayat iqra’ ini kemudian muncul sebagai tanwir, pencerah, yang memberikan cara untuk keluar dari kegelapan tersebut,” ujarnya.
Haedar menjelaskan bahwa ayat tersebut memiliki inti untuk menegakkan ilmu dan akal pikiran. Dari pemaknaan tersebut kemudian memunculkan berbagai konsep seperti tafakkur, tadabbur dan lainnya. Pemaknaan dan penerapan dari iqra’ tersebut yang kemudian saya rasa sangat berkurang di masyarakat kita saat ini.
Selanjutnya, Haedar menjelaskan, dalam kehidupan orang yang beragama, hal yang paling dibenci oleh tuhan adalah inkonsistensi. Dalam surat Ash-Shaff ayat 3 Allah memperingatkan bahwa hal yang paling dibenci adalah orang yang mengatakan apa yang tidak mereka lakukan, artinya ketika anda mengaku seorang Muslim, konsistenlah.
“Pahami agama anda melalui perenungan yang dalam, dan bukan hanya terbawa sumbu pendek yang mudah disulut untuk kepentingan tertentu,” jelas Haedar.[]






