More

    Kenapa Fresh Graduate Sekarang Diminta Berpengalaman?

    Ilustrasi.

    Lulus kuliah seharusnya menjadi awal memasuki dunia kerja. Setidaknya, begitu bayangan banyak mahasiswa ketika pertama kali menginjak bangku kuliah. Setelah menyelesaikan skripsi, mengenakan toga, dan menerima ijazah, langkah berikutnya adalah mencari pekerjaan.

    Namun, realitas yang ditemui banyak fresh graduate justru berbeda. Saat membuka berbagai portal lowongan kerja, mereka kerap menemukan syarat yang terdengar ironis: minimal memiliki pengalaman kerja satu hingga dua tahun.

    Pertanyaannya sederhana. Kalau semua perusahaan mencari orang yang sudah berpengalaman, dari mana lulusan baru harus mendapatkan pengalaman pertamanya? Istilah entry level seharusnya merujuk pada posisi yang memang ditujukan bagi lulusan baru. 

    - Advertisement -

    Posisi ini menjadi pintu masuk bagi seseorang untuk mengenal ritme kerja, budaya perusahaan, hingga mengembangkan keterampilan profesional. Namun dalam praktiknya, tidak sedikit lowongan entry level yang justru mensyaratkan pengalaman kerja, kemampuan mengoperasikan berbagai perangkat lunak, hingga pengalaman menangani proyek tertentu.

    Akibatnya, banyak fresh graduate merasa kalah sebelum sempat mengikuti proses seleksi. Bukan karena tidak mampu, melainkan karena belum pernah diberi kesempatan untuk membuktikan kemampuannya. Kondisi tersebut membuat mahasiswa mulai mengubah cara mempersiapkan diri sejak masih kuliah.

    Kalau dulu magang dianggap sebagai pelengkap pengalaman belajar, sekarang magang nyaris menjadi kebutuhan. Bahkan tidak sedikit mahasiswa yang mengikuti dua hingga tiga program magang sebelum lulus demi memperkuat CV. Di beberapa jurusan, mahasiswa rela mengorbankan libur semester, organisasi, bahkan waktu mengerjakan skripsi agar memiliki pengalaman yang bisa ditampilkan saat melamar kerja.

    Bagi banyak mahasiswa, pertanyaannya bukan lagi “perlu magang atau tidak?”, melainkan “sudah cukup banyak belum pengalaman magang saya?” Menariknya, pengalaman yang dicari perusahaan sebenarnya tidak selalu berarti pernah menjadi karyawan tetap.

    Magang, kerja paruh waktu, menjadi freelancer, mengelola proyek kampus, mengikuti kompetisi, hingga membangun usaha kecil selama kuliah sering kali menjadi nilai tambah dalam proses rekrutmen. Melalui pengalaman tersebut, perusahaan dapat melihat bagaimana seseorang bekerja dalam tim, menyelesaikan masalah, berkomunikasi, hingga menghadapi tekanan pekerjaan.

    Kemampuan-kemampuan seperti ini sulit dinilai hanya melalui transkrip akademik.

    Kampus Tidak Lagi Menjadi Satu-satunya Tempat Belajar

    Bersambung ke halaman selanjutnya –>

    - Advertisement -

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here