
TANGGERANG, KabarKampus – Universitas Terbuka (UT) mengukuhkan enam profesor baru yang menghadirkan berbagai gagasan berbasis riset untuk menjawab tantangan pembangunan di Indonesia. Beragam topik yang diangkat mencakup pendidikan jarak jauh, tata kelola pemerintahan, lingkungan berkelanjutan, administrasi publik, hingga inovasi kebijakan.
Prosesi pengukuhan berlangsung di Universitas Terbuka Convention Center (UTCC), Tangerang Selatan, pada Rabu-Kamis (5–6/8). Penambahan profesor ini menjadi bagian dari upaya UT memperkuat kapasitas akademik, meningkatkan kualitas riset, serta mendorong lahirnya inovasi yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
Rektor Universitas Terbuka, Ali Muktiyanto, mengatakan pengukuhan profesor tidak sekadar menjadi pencapaian akademik tertinggi, tetapi juga menandai tanggung jawab yang lebih besar dalam menghasilkan solusi atas berbagai persoalan bangsa.
Menurutnya, para profesor mengangkat beragam bidang kajian, mulai dari pendidikan, tata kelola pemerintahan, lingkungan, literasi, kecerdasan artifisial (artificial intelligence/AI), hingga perlindungan pekerja migran. “Keenam profesor ini menunjukkan bahwa tantangan masa depan tidak dapat dijawab oleh satu disiplin ilmu semata,” ujar Ali seperti dikutip dari Republika.
Salah satu orasi ilmiah yang mendapat perhatian membahas pengelolaan lingkungan melalui konsep River-Settlement Symbiotic System (RS3) yang disampaikan Prof. Edi Rusdiyanto. Konsep tersebut menawarkan pendekatan baru dengan memandang sungai dan kawasan permukiman sebagai satu kesatuan yang harus dikelola secara terpadu.
Melalui pendekatan tersebut, pengelolaan sungai tidak hanya ditujukan untuk menjaga kualitas lingkungan, tetapi juga meningkatkan ketahanan kawasan perkotaan serta mengurangi risiko bencana. Ali menilai berbagai hasil penelitian yang dipresentasikan para profesor menunjukkan bahwa riset perguruan tinggi harus mampu melampaui publikasi ilmiah dan menjadi dasar penyusunan kebijakan maupun solusi yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
“Bagi UT, itulah makna seorang profesor. Gelar akademik tertinggi bukan menjadi garis akhir perjalanan keilmuan, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar untuk terus menghasilkan pemikiran yang relevan dengan kebutuhan zaman,” kata Ali.
Pengukuhan profesor dilaksanakan dalam dua gelombang. Pada hari pertama, Rabu (5/8), UT mengukuhkan Prof. Rahmat Budiman, SS, M.Hum., Ph.D., dosen Sastra Inggris sekaligus Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan. Dalam orasi ilmiahnya, Prof. Rahmat mengulas berbagai tantangan pembelajaran dalam sistem pendidikan terbuka dan jarak jauh, mulai dari keterbatasan waktu belajar hingga tanggung jawab ekerjaan dan keluarga yang dihadapi mahasiswa.
Pada hari yang sama, Prof. Dr. Milwan, S.Sos., M.Si., ang menjabat sebagai Ketua Program Studi Ilmu Pemerintahan, membahas pentingnya birokrasi yang adaptif dalam menghadapi perubahan sosial dan politik, baik di tingkat daerah maupun nasional.
Sementara itu, pada hari kedua, Kamis (6/8), UT mengukuhkan Prof. Dr. Siti Aisyah, M.Si., Ketua Program Studi Magister Administrasi Publik Sekolah Pascasarjana UT. Dalam orasinya, ia menyoroti pentingnya inovasi kelembagaan agar birokrasi dan pelayanan publik mampu beradaptasi dengan perubahan zaman.
Selanjutnya, Prof. Dr. Rahmat Hidayat, S.Sos., M.Si., yang juga berasal dari Program Studi Magister Administrasi Publik, memaparkan pentingnya efektivitas implementasi kebijakan publik. Menurutnya, keberhasilan program pembangunan nasional sangat dipengaruhi oleh dinamika sosial yang berkembang di masyarakat.
Melalui penambahan enam profesor tersebut, Universitas Terbuka berharap semakin memperkuat pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi sekaligus menghasilkan penelitian yang adaptif, solutif, dan berdaya saing global.






