More

    Kamu Bukan Peter Parker: Jebakan Jadi Mahasiswa Ideal

    Oleh: Ilham Nuri Sabili*

    Ilustrasi.

    Kita tidak saling mengenal, tetapi kita punya satu teman yang sama bernama Peter Parker. Seorang mahasiswa super sibuk yang selain kuliah juga bekerja sebagai fotografer lepas untuk Daily Bugle. Di semesta lain, ia sibuk melakukan penelitian bersama Dr. Curt Connors. Di semesta lainnya lagi, ia mendapat bimbingan langsung dari Tony Stark. Di balik semua kehidupan dan kesibukan Peter di luar kuliah, jangan lupakan bahwa ia juga masih memiliki tanggung jawab sebagai Spider-Man untuk menyelamatkan New York, bahkan semesta.

    Apakah kamu punya teman mahasiswa yang super sibuk seperti Peter? Aku punya, banyak. Mereka memiliki berbagai kegiatan di samping kehidupan kuliahnya seperti organisasi, UKM, bekerja, lomba, magang, freelance, sertifikasi, volunteer, gym, membuat konten, membangun portofolio, mengelola Instagram, hingga personal branding. Mahasiswa-mahasiswa ini tampaknya memiliki dua kehidupan seperti Peter Parker. Bedanya, mereka tidak sedang menyelamatkan New York. Mereka sedang berusaha menjadi atau memenuhi kriteria “mahasiswa ideal” di zaman sekarang.

    - Advertisement -

    Kenapa kita melakukan semua kegiatan “sampingan” tersebut? Apakah semuanya benar-benar kebutuhan, atau justru ada semacam tuntutan untuk menjalankannya?

    Saya menyebutnya produktivitas, ketika mahasiswa tidak hanya belajar di kampus, tetapi juga mengisi waktu di luar kuliah dengan berbagai kegiatan yang dianggap dapat membuat dirinya berkembang. Namun, ada perbedaan besar di balik aktivitas-aktivitas tersebut: tujuannya.

    Sebagian melakukannya karena memang ingin berkembang dan menikmati apa yang dijalani. Sebagian lainnya melakukannya karena merasa harus dan takut tertinggal. Kita mungkin sudah cukup familiar dengan istilah FOMO. Ketika teman ikut lomba, kita ingin ikut lomba. Ketika teman mendapatkan pengalaman magang, kita mulai mencari magang. Ketika teman memiliki bisnis, kita merasa harus memiliki sesuatu yang serupa. Pertanyaannya, apakah itu benar-benar keinginan kita? Atau jangan-jangan kita hanya takut menjadi satu-satunya orang yang tidak melakukannya?

    Lalu muncul pertanyaan, sejak kapan mahasiswa harus selalu produktif di luar kegiatan akademiknya? Sudah sejak kapan fokus belajar dan kuliah saja mulai dianggap tidak cukup?

    Menurut saya, salah satu penyebabnya adalah persaingan yang semakin ketat setelah mahasiswa lulus. Di tengah jumlah lulusan perguruan tinggi yang besar dan lowongan pekerjaan yang kompetitif, IPK saja sering kali dipandang belum cukup untuk menunjukkan kesiapan seseorang memasuki dunia kerja. Pengalaman organisasi, magang, sertifikasi, kemampuan komunikasi, portofolio, hingga koneksi orang inside kemudian ikut menjadi modal yang dianggap penting.

    Persaingan tersebut pada akhirnya masuk ke kehidupan mahasiswa. Kita mulai berlomba mengumpulkan pengalaman sebelum benar-benar memasuki dunia kerja. Ada yang mengikuti lomba, bergabung dengan organisasi, mencari magang, membangun networking, bekerja paruh waktu, atau mengembangkan berbagai keterampilan. Semua itu tentu bukan sesuatu yang buruk. Justru banyak di antaranya memberikan manfaat nyata.

    Namun, apakah kita benar-benar melakukan semua itu karena ingin berkembang?

    Bersambung ke halaman selanjutnya –>

    - Advertisement -

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here