More

    Kamu Bukan Peter Parker: Jebakan Jadi Mahasiswa Ideal

    Namun, apakah kita benar-benar melakukan semua itu karena ingin berkembang?

    Media sosial kemudian memperparah persoalan tersebut. Instagram, TikTok, dan LinkedIn lebih sering menampilkan hasil daripada proses. Kita melihat teman memenangkan lomba, mendapatkan sertifikat, diterima magang, mengikuti seminar, bekerja di perusahaan tertentu, atau membangun bisnis. Kita jarang melihat berapa banyak kegagalan, kebingungan, dan waktu yang mereka habiskan sebelum sampai pada titik tersebut.

    Akibatnya, kita lebih mudah membandingkan kehidupan sehari-hari kita dengan bagian terbaik dari kehidupan orang lain. Lalu muncul persepsi sederhana: “Semua orang berkembang. Kok aku tidak?”. Jika persepsi tersebut mendorong kita untuk belajar dan berkembang, tentu tidak ada yang salah. Masalah muncul ketika kita mulai memaksakan diri hanya karena takut tertinggal. Kita tidak lagi memilih kegiatan berdasarkan apa yang kita butuhkan atau sukai, melainkan berdasarkan apa yang dilakukan orang lain.

    - Advertisement -

    Lalu, apa alasan yang bagus untuk berkembang selama menjadi mahasiswa?

    Selain karena memang menikmati apa yang kita jalani, saya menemukan satu alasan yang cukup masuk akal yaitu mempercantik CV (investasi masa depan untuk mencari kerja). Banyak kegiatan mahasiswa pada akhirnya memang dapat memberikan nilai ketika kita memasuki dunia kerja. Kebiasaan membaca dapat dikembangkan menjadi portofolio tulisan. Partisipasi dalam lomba dapat menjadi bukti pencapaian. Keterlibatan dalam organisasi dapat melatih kemampuan kepemimpinan. Aktivitas di UKM dapat memperluas jaringan. Bekerja memberikan pengalaman praktis. Menekuni hobi bahkan dapat dikembangkan menjadi keahlian atau personal branding.

    Semua aktivitas tersebut memiliki return. Kita mendapatkan pengalaman, keterampilan, koneksi, atau sesuatu yang dapat digunakan di masa depan. Selain karena memang menikmatinya, kita juga memiliki alasan rasional untuk melakukannya.

    Namun, setelah semua hal yang melelahkan ini, apakah kehidupan mahasiswa masih boleh memiliki sesuatu yang “tidak berguna”?

    Apakah membaca novel yang tidak berhubungan dengan jurusan harus menghasilkan portofolio? Apakah setiap kegiatan harus menghasilkan sertifikat? Apakah nongkrong bersama teman harus selalu disebut networking? Apakah hobi harus dimonetisasi? Apakah waktu luang harus selalu diisi dengan sesuatu yang dapat dimasukkan ke CV?

    Mungkin tidak.

    Ada hal-hal yang memang tidak menghasilkan sertifikat, uang, pengalaman kerja, atau koneksi, tetapi tetap memiliki nilai. Membaca buku hanya karena menyukai ceritanya. Mendengarkan musik tanpa tujuan apa pun. Bermain bersama teman. Menonton film. Menggambar. Bersepeda. Tidur lebih lama setelah minggu yang melelahkan. Bahkan menghabiskan beberapa jam tanpa melakukan sesuatu yang produktif.

    Tidak semua aktivitas dalam hidup harus memiliki return.

    Bersambung ke halaman selanjutnya –>

    - Advertisement -

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here