More

    Kamu Bukan Peter Parker: Jebakan Jadi Mahasiswa Ideal

    Tidak semua aktivitas dalam hidup harus memiliki return.

    Di sinilah saya mulai melihat persoalan dalam budaya produktivitas mahasiswa. Masalahnya bukan pada produktivitas itu sendiri. Belajar, bekerja, berorganisasi, mengikuti lomba, berolahraga, dan mengembangkan keterampilan tentu merupakan hal-hal yang baik. Masalahnya muncul ketika produktivitas berubah menjadi ukuran nilai diri.

    Kita mulai merasa bersalah ketika beristirahat. Kita merasa tertinggal ketika melihat pencapaian teman. Kita merasa harus selalu memiliki sesuatu untuk ditambahkan ke CV. Satu pencapaian selesai, pencapaian berikutnya harus dikejar. Satu pengalaman didapat, pengalaman lain terasa harus segera menyusul.

    - Advertisement -

    Pada titik tertentu, produktivitas malah berubah menjadi perlombaan yang tidak memiliki garis akhir, realita yang jujur cukup menyedihkan. Ironisnya, semakin banyak aktivitas yang kita lakukan untuk menjadi “versi terbaik” diri kita, semakin sedikit waktu yang mungkin kita miliki untuk mempertanyakan jati diri, sebenarnya kita ingin menjadi apa?

    Kita bisa memiliki beberapa sertifikat, pengalaman organisasi, pengalaman kerja, prestasi lomba, portofolio, dan personal branding yang bagus, tetapi belum tentu memahami apa yang sebenarnya kita sukai. Kita sibuk mengumpulkan bukti bahwa kita berkembang, sampai lupa menikmati proses perkembangan itu sendiri.

    Peter Parker mungkin dapat menjadi mahasiswa, fotografer, peneliti, dan Spider-Man dalam satu kehidupan. Namun, ia adalah karakter fiksi. Mahasiswa nyata memiliki waktu, tenaga, perhatian, dan kemampuan yang terbatas. Kita tidak harus menjadi mahasiswa yang sekaligus atlet, aktivis, pekerja, pengusaha, juara lomba, content creator, dan manusia paling produktif di kampus.

    Bekerja bukan masalah. Berorganisasi bukan masalah. Mengikuti lomba bukan masalah. Pergi ke gym juga bukan masalah. Bahkan mengejar sebanyak mungkin pengalaman pun tidak salah jika memang itu yang kita inginkan. Hal yang perlu dipertanyakan adalah ketika semua itu dilakukan bukan karena kita memilihnya, tetapi karena kita takut dianggap tertinggal.

    Barangkali menjadi mahasiswa yang baik bukan tentang seberapa banyak peran yang mampu kita jalankan dalam waktu yang bersamaan. Menjadi mahasiswa mungkin justru tentang kemampuan memilih antara mana yang memang ingin kita perjuangkan, mana yang perlu kita lakukan, dan mana yang boleh kita tinggalkan.

    Sebab pada akhirnya, kita tidak sedang mengikuti perlombaan untuk menjadi mahasiswa paling sibuk.

    Kita sedang menjalani kehidupan kita sendiri.

    *Penulis adalah Mahasiswa UIN Raden Mas Said Surakarta.

    - Advertisement -

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here