More

    Tekanan Sosial dan Ekonomi di Balik Tren Belajar di Kafe

    Oleh: Ilham Nuri Sabili*

    Ilustrasi.

    Buka media sosial kamu hari ini, dan kemungkinan besar kamu akan menemukan potret mahasiswa yang sedang “ambis” atau mengerjakan tugas di kafe estetik. Meja kayu minimalis, secangkir kopi dengan latte art yang cantik, laptop yang terbuka, dan pendar cahaya hangat seolah menjadi paket lengkap yang identik dengan produktivitas generasi muda masa kini.

    ​Namun, di balik estetika visual yang meluncur di beranda Instagram atau TikTok tersebut, tersimpan sebuah tekanan sosial yang jarang dibicarakan. Bagi sebagian mahasiswa, memilih kafe sebagai tempat mengerjakan tugas bukan lagi sekadar soal mencari kenyamanan, melainkan sebuah tuntutan gaya hidup yang menjerat dompet. Padahal, esensi dari sebuah kerja kelompok seharusnya berpusat pada kualitas gagasan, bukan pada seberapa mentereng tempat diskusinya.

    - Advertisement -

    Mari kita geser sudut pandang ke arah kasir atau ke kolong meja. Di sana, kita akan melihat realitas yang berbeda, seorang mahasiswa yang berdiri dengan jemari bergetar di depan barcode QRIS, mengecek sekilas saldo di aplikasi bank mobile dan berdoa agar saldo yang pas-pasan tidak gagal melakukan pembayaran sehingga mempermalukannya di depan kasir. Di sudut lain, ada mahasiswa yang sepanjang tiga jam diskusi hanya menatap sebotol air mineral kemasan atau sepiring kentang goreng yang sengaja dimakan pelit-pelit, menu paling murah yang terpaksa dipesan hanya agar tidak diusir oleh pelayan kafe.

    ​Harus diakui, kafe modern menawarkan fasilitas yang sangat mendukung proses belajar. Koneksi internet yang stabil, pendingin ruangan, dan banyak colokan listrik membuat banyak mahasiswa lebih betah berdiskusi di sana ketimbang di fasilitas kampus. Persoalannya bukan pada keberadaan kafenya, melainkan ketika tempat yang relatif mahal ini perlahan dianggap sebagai satu-satunya pilihan yang “wajar” dan “normal” untuk berkumpul. Tanpa disadari, kebiasaan ini menciptakan jebakan konformitas, mahasiswa merasa harus mengikuti pilihan mayoritas kelompoknya, meskipun kondisi keuangan mereka megap-megap.

    ​Pergeseran budaya ini tidak bisa dilepaskan dari pengaruh media sosial yang sukses membangun citra bahwa kafe estetik adalah simbol mahasiswa yang aktif, modern, dan produktif. Akibatnya, mengerjakan tugas terasa kurang oke tanpa latar belakang estetik yang bisa dipamerkan ke pengikut di media sosial. Ruang belajar tidak lagi dipilih karena fungsi utamanya, melainkan demi citra atau prestise yang melekat padanya.

    ​Dalam kacamata sosiologi, fenomena ini mengingatkan saya pada pemikiran filsuf Jean Baudrillard mengenai masyarakat konsumsi. Kita hari ini sering kali tidak lagi mengonsumsi nilai guna suatu barang, melainkan simbol yang melekat padanya. Kafe estetik telah berubah menjadi “simulakra produktivitas” yaitu sebuah ruang tiruan yang memberi kesan bahwa seseorang sedang bekerja keras dan keren, meskipun aktivitas akademik yang dilakukan di sana tidak ada bedanya dengan belajar di perpustakaan atau teras kampus yang gratis. Di era digital, produktivitas perlahan bergeser dari sesuatu yang dijalani menjadi sesuatu yang wajib dipamerkan.

    Bersambung ke halaman selanjutnya –>

    - Advertisement -

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here