
EBC Financial Group dan FEB UI bekali mahasiswa strategi membaca data pasar & ekonomi global, agar tak sekadar ikut tren investasi.
JAKARTA, KabarKampus – Literasi keuangan dan literasi investasi menjadi keahlian krusial bagi generasi muda di tengah derasnya arus informasi pasar finansial melalui media sosial. Menjawab kebutuhan ini, EBC Financial Group Indonesia berkolaborasi dengan Management Student Society Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (MSS FEB UI) menyelenggarakan seminar edukasi ekonomi global pada Kamis (17/9), di Auditorium R. Soeria Atmadja, Kampus FEB UI.
Bertajuk “EBC Beyond Market: Membaca Pasar, Memahami Ekonomi Global – Mengasah Ketajaman Analisis Bagi Generasi Muda Melalui Data dan Ekspektasi Pasar” acara ini dirancang membekali mahasiswa dengan taktik analitis dalam merespons dinamika pasar, agar tidak sekadar terjebak tren atau Fear of Missing Out (FOMO) dalam berinvestasi.
Dialog Industri dan Akademisi: Menjembatani Teori dengan Realita Pasar
Mengusung konsep Academic-Industry Dialogue, forum ini mempertemukan praktisi industri keuangan global dengan akademisi untuk menjembatani kesenjangan antara teori makroekonomi di kelas dan realitas pasar finansial yang bergerak cepat.
Diskusi interaktif ini dibangun menggunakan point of questions framework berbasis data. Melalui pendekatan yang terstruktur namun adaptif ini, wawasan dari industri ditransfer agar mahasiswa mampu merancang strategi mitigasi risiko yang kritis dan siap diimplementasikan.
Perspektif Industri dan Akademisi soal Ekonomi Global
Sesi dialog ini memadukan dua sudut pandang keahlian melalui kehadiran Sana Ur Rehman, Financial Market Analyst di EBC Financial Group, serta Ibrahim Kholilul Rohman, Senior Research Associate di IFG Progress sekaligus Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia.
Sana, yang memiliki pengalaman global hampir satu dekade di bidang makroekonomi, valuta asing, dan komoditas, menegaskan pentingnya literasi data,
“Literasi makroekonomi bukan lagi sekadar pilihan bagi generasi saat ini. Keputusan bank sentral, perubahan kebijakan perdagangan, atau kejutan geopolitik kini lebih dulu sampai ke layar ponsel mahasiswa melalui feed media sosial sebelum masuk ke buku teks. Keahlian yang sesungguhnya adalah belajar membaca data itu sendiri, bukan sekadar menelan mentah-mentah reaksi pasar.”
Ibrahim menambahkan pentingnya sinergi akademisi dan industri:
“Sinergi antara dunia akademis dan industri sangat krusial di era ekonomi yang dinamis ini. Mahasiswa dibekali fondasi teori yang kuat di ruang kelas, namun mereka juga membutuhkan wawasan praktis tentang bagaimana kebijakan global dan sentimen pasar berinteraksi secara riil.”
Indeks Literasi Keuangan Indonesia Baru 65,43%, Mahasiswa Jadi Sasaran Strategis
Bersambung ke halaman selanjutnya –>






