
JAKARTA, KabarKampus – Universitas Paramadina menyelenggarakan Wisuda ke-45 dengan menghadirkan Dr. Sandiaga Salahuddin Uno sebagai orator ilmiah.
Dalam orasi ilmiahnya, Sandiaga menyampaikan pesan penting kepada para wisudawan agar tidak hanya mempersiapkan diri menghadapi tantangan dunia kerja, tetapi juga mampu menjadi generasi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, bangsa, dan negara.
“Apakah mencari kerja sekarang gampang atau susah? Susah atau susah banget?” ujar Sandiaga Uno, menyoroti realitas tantangan ketenagakerjaan yang dihadapi Indonesia, mulai dari tingginya tingkat pengangguran, jebakan kelas menengah (middle-income trap), pengangguran anak muda, hingga ketidaksesuaian antara kompetensi lulusan dan kebutuhan dunia usaha serta industri.
Sandi juga menyoroti fenomena missing potential, yakni potensi generasi muda yang belum sepenuhnya terserap dan dikembangkan secara produktif. Ia mengungkapkan bahwa, “Hampir 20% dari anak-anak muda kita itu berada dalam kategori NEET. Tidak bekerja, tidak bersekolah, dan tidak mengikuti pelatihan.”
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi tantangan sekaligus panggilan bagi generasi muda, termasuk para lulusan Universitas Paramadina, untuk mengambil peran lebih besar dalam menciptakan lapangan kerja dan mendorong produktivitas bangsa.
Alumni Paramadina Harus Menjadi Pribadi yang Bermanfaat
Salah satu pesan utama yang ditekankan dalam orasi ilmiah tersebut adalah pentingnya menjadi manusia yang bermanfaat. “Sebaik-baikknya manusia adalah manusia yang bermanfaat. Betul atau betul?” ujar Sandiaga, mendorong para alumni Universitas Paramadina untuk tidak hanya mengejar keberhasilan pribadi, jabatan, maupun pencapaian material, tetapi juga mampu memberikan dampak positif bagi lingkungan dan masyarakat.
Gelar akademik yang diraih bukanlah garis akhir perjalanan, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar untuk mengimplementasikan ilmu pengetahuan, nilai-nilai, dan kemampuan yang telah diperoleh selama menempuh pendidikan.
Integritas: Character Over Competence
Dalam kesempatan tersebut, Sandiaga juga menegaskan bahwa integritas harus menjadi fondasi utama kepemimpinan. “Integritas adalah landasan dari kepemimpinan. Tidak ada pemimpin yang mumpuni kalau integritas tidak diperbaiki,” tegasnya. Menurutnya, karakter yang berintegritas harus lebih diutamakan daripada sekadar kompetensi.
Pesan Character Over Competence menjadi pengingat bahwa kemampuan akademik, keahlian profesional, dan kecerdasan intelektual perlu berjalan beriringan dengan kejujuran, tanggung jawab, konsistensi, serta komitmen terhadap nilai-nilai moral. Sandi juga mengingatkan bahwa mindset seorang pemenang harus senantiasa berorientasi pada inovasi.
“Mindset inovatif diperlukan untuk menghadapi tantangan dan mencari solusi, bukan sekadar mengeluh,” kata Sandiaga, menekankan bahwa para lulusan dituntut untuk menghadapi dunia dengan pola pikir yang penuh inovasi dan optimisme.
Entrepreneurial Mindset untuk Menghadapi Dunia Industri
Bersambung ke halaman selanjutnya –>






