Ikat Kepala : Identitas Diri dan Pelestarian Budaya

Frino Bariarcianur

Komunitas Iket Sunda (KIS) mengeksplorasi bentuk ikat kepala. FOTO : FRINO BARIARCIANUR

 

Mengenakan ikat kepala bukan hanya sekadar fesyen belaka. Tapi juga menunjukkan identitas diri pemakainya.

Identitas diri lewat ikat kepala ini pula sudah lama menjadi bagian hidup bangsa Indonesia. Dari ikat kepala kita bisa mengetahui darimana asal seseorang. Dari ikat kepala juga kita bisa mengetahui status sosialnya di dalam masyarakat. Tempatnya yang di kepala membuat ikat kepala memiliki arti penting bagi si pemakainya. Salah satu contohnya adalah ikat kepala khas orang Sunda.

Andi Rustandi, salah satu anggota Komunitas Iket Sunda (KIS) yang ditemui si KaKa dalam acara Kampung Tatar Parahyangan di Kampus Universitas Padjajaran, Minggu (29/01/2012) mengaku sudah lama menyukai ikat kepala ini.

“Di dalam keluarga saya, iket kepala sudah menjadi bagian kehidupan sehari-hari,” kata Andi.

Kecintaannya pada ikat kepala (dalam bahasa Sunda disebut iket) khas orang Sunda membuat dirinya semakin mencintai kebudayaan Sunda. “Mengenakan iket kepala itu salah satu fesyen yang sekaligus melestarikan budaya dan ajaran karuhun (leluhur) orang Sunda.”

Bersama kawan-kawannya di KIS mereka saling berbagai informasi mengenai ikat kepala. KIS yang didirikan oleh Kang Agus Roche Effendi ini berdiri sejak November 2011 lalu. Kegiatan mereka diantaranya mengekplorasi bentuk-bentuk baru ikat kepala, berpameran, workshop dan juga seminar.

“Kami juga ingin seperti nenek moyang yang mampu membuat bentuk iket kepala yang sampai saat ini masih bisa digunakan. Mana tau hasil kreasi anak muda saat ini juga menjadi ikat kepala yang unik di  masa mendatang.”

Menurut Andi, saat ini KIS sudah mencatat sekitar 26 jenis iket kepala. Terdiri dari bentuk iket kepala peninggalan leluhur dan kreasi masa kini. Ia percaya bentuk ikat kepala akan semakin berkembang sesuai zaman. KIS sendiri sudah menghimpun sekitar 600 lebih pecinta ikat kepala yang rata-rata anak muda.

Awalnya mereka “bertemu” lewat dunia maya di situs jejaring sosial facebook. Lalu bertemu dan akhirnya membuat komunitas. Anggotanya pula terdiri dari mahasiswa, seniman, musisi dan sebagainya.

Di KIS mereka tak hanya melihat ikat kepala sekadar fesyen tapi juga turut melestarikan nilai-nilai yang diajarkan oleh para leluhur. Mereka pun berharap ikat kepala menjadi salah satu tren atau gaya hidup anak muda di Indonesia. Selain itu anak-anak muda juga bisa belajar filosofi hidup dari ikat kepala.

Iket kepala jenis barangbang sumplak digunakan oleh para jawara Sunda. FOTO : FRINO BARIARCIANUR

“Setiap iket kepala orang Sunda punya nilai filosofinya,” kata Tirta, anggota KIS yang lebih memilih jenis ikat kepala barangbang sumplak (pelepah kelapa kering yang patah).

Menurutnya jenis ikat kepala yang ia pakai sering digunakan oleh para jawara atau prajurit kerajaan di masa lalu. Nilai yang dapat dipetik dari jenis ikat kepala ini adalah seseorang harus siap menghadapi setiap tantangan dan hambatan.

“Kita harus selalu siap bila ada tantangan atau masalah, tidak boleh lari,” ujar Tirta.

Ada juga iket kepala yang menunjukkan status sosial seseorang di masyarakat. Misalnya ikat kepala dengan nama Ki Lengser. Ikat kepala ini menunjukkan seseorang yang dianggap sepuh di dalam masyarakat. Ada juga jenis Julat Jalitrong dan Totopong. Untuk jenis ikat kepala Totopong biasanya disebut Bendo Cepot.  Ikat kepala ini hampir menutupi bagian belakang hingga ke leher.

Itu baru dari budaya orang Sunda. Tentu masih banyak lagi jenis ikat kepala dari berbagai daerah di Indonesia. Jadi jangan malu mengikat kepala karena ikat kepala menunjukkan juga siapa diri kita. []

Leave a Reply

Your email address will not be published.