More

    Di Balik Pengembalian Habibie Award

    Sastrawan Ajip Rosidi bertindak mengejutkan khususnya bagi dunia akademik. Pendiri Yayasan Kebudayaan Rancage ini mengembalikan Habibie Award yang diterimanya pada 2009.

    Ajip Rosidi. FOTO : TUTI YOSENDA
    Ajip Rosidi. FOTO : TUTI YOSENDA

    Pengembalian hadiah sebagai bentuk protes Ajip Rosidi terhadap keputusan Yayasan Sumber Daya Manusia dalam llmu Pengetahuan dan Teknologi (Yayasan SDM-IPTEK) Habibie Center yang memberikan hadiah serupa kepada Guru Besar Sejarah Universitas Padjadjaran (Unpad) Nina Herlina Lubis 2015 lalu.

    Untuk mengetahui latar belakang pengembalian Habibie Award, Ajip Rosidi menerima wartawan Kabar Kampus, Iman Ha, di Perpustakaan Ajip Rosidi, Jalan Garut, Bandung, Sabtu (29/5/2016). Mengenakan kemeja batik warna cerah, sastrawan 78 tahun itu membeberkan sejumlah alasan pengembalian Habibie Award yang diterimanya pada 11 November 2009 atas karya dalam bidang ilmu kebudayaan. Berikut petikan wawancaranya:

    - Advertisement -

    Apa latar belakang Pak Ajip mengembalikan Habibie Award?
    Nina itu pada 2003 memplagiat skripsi yang dibuat mahasiswinya. Skripsi ini diumpatkan karena itu tidak ada di Perpus Sejarah Unpad. Tapi saya punya foto kopi skripsi itu. Berdasarkan skripsi itu Nina membuat buku judulnya ‘Negarawan dari Desa Cinta,’ tentang Sanusi Hardjadinata (1914-1995). Dia pernah jadi Rektor Unpad, juga politikus Indonesia. Seorang mahasiswi Nina namanya Elly Maryam, menulis skripsi tentang itu (pemikiran Mohammad Sanusi Hardjadinata).

    Nah skripsi ini oleh Nina dijadikan buku, memang dia tambah-tambah dan segala macam, tapi dia tidak sebut sumbernya (dari skripsi Elly Maryam). Nina (memang) berterima kasih kepada Elly Maryam karena telah mengetik dan ikut menyusun naskah, tapi tidak mengatakan bahwa berdasarkan skripsi dia. Artinya apa? Dalam dunia ilmu pengetahuan itu artinya plagiat, memplagiat, mencuri, maling.

    Cuman tidak ada yang menggugat karena si Elly-nya katanya stres. Saya juga tidak pernah ketemu sama Elly. Tadinya dia mau dijadikan dosen, lantas tidak, lalu dia stres. Sekarang ada dimana, saya tidak tahu. Tapi mungkin masih di Bandung.

    Yang kedua, Ali Anwar. Dia ahli sejarah lulusan UI, dia orang Bekasi. Dia menulis riwayat hidupnya KH Nur Ali yang oleh pemerintah Bekasi waktu itu mau diperuangkan jadi Pahlawan Nasional. Entah bagaimana Bu Nina tahu ini dan dia janji akan memperjuangkan itu. Tapi dia gunakan naskah Ali Anwar ini sebagai bahan. Dia minta ijin kepada Ali Anwar untuk menyingkatkan. Lalu Ali Anwar tidak memberi ijin. Tapi bikin juga naskah sampai 70 persen dan dicetak tanpa diberi ijin dari pengarang (dari Ali Anwar).

    Nina juga pernah mengajukan Tirto Adi Suryo mendapat gelar Pahlawan Nasional berdasarkan buku Pramudya Ananta Toer yang menulis biografi Tirto Adi Suryo, judulnya Sang Pemula. Nina memaki-maki buku itu, katanya tidak ilmiah, tidak ada catatan kaki segala macam. Tapi akhirnya dia pakai buku itu untuk bahan bahwa Tirto Adi Suryo pantas jadi Pahlawan Nasional, dan berhasil. Bagaimana orang yang tadinya maki-maki kemudian memakai.

    Jadi dari segi ilmu Nina itu tidak tahu. Dan itu menimbulkan keheranan buat saya. Kenapa? Karena disertasinya bagus (Kaum Menak Priangan 1800-1942), itu dapat cum laude dari Sartono (Prof. Dr. A. Sartono Kartodirdjo), bapak sejarah Indonesia. Dan Pak Sartono itu sampai beliau meninggal dunia hanya dua kali mengeluarkan cum laude, satu untuk Pak Lapian (Adrian Bernard Lapian) ahli maritim Indonesia. Nina itu yang kedua cum laude dari Pak Sartono.

    Disertasinya bagus. Tapi selesai (saya membaca) buku-buku Nina yang terbaru, timbul pertanyaan pada saya, siapa yang menulis disertasi itu? Mestinya bukan dia atau paling tidak ada orang lain yang membantu dia. Buku itu baik sebagai disertasi.

    Kenapa bapak akhirnya mengembalikan Habibie Award?
    Saya kembalikan itu karena 2015 Nina mendapat Habibie Award, saya merasa terhina disamakan dengan Nina. Kalau dia tidak dapat hadiah saya tidak akan mengembalikan. Saya merasa terhormat mendapat Habibie Award, itu suatu penghormatan yang bagus sekali. Ini tradisi ini bagus, Habibie keluarkan uang untuk ini. Satu orang 2.500 dolar. Ada tiga empat orang tiap tahun. Jadi selama 17 tahun berapa banyak Habibie mengeluarkan uang.
    Ini yang jadi juri, kok melupakan nilai-nilai objektif keilmuan. Karya ilmiahnya tidak ada yang bisa dibanggakan. Siapa yang tahu tentang Nina?

    Artinya juri tidak profesional?
    Soal hubungan dia (Nina) dengan juri itu urusan pribadi. Tapi kalau urusan pribadi lantas menyebabkan pemberian hadiah Habibie Award, itu jadi perkara. Calon lain kan Sapardi Djoko Damono 10 kali 20 kali lebih bermutu daripada Ibu Nina, tapi juri memilih Nina, kenapa? Itu jadi masalah.
    Cari informasi wartawan, harus tanya kenapa bisa begitu, ada apa. Tanya sama orang LIPI, tanya sama anggota Masyarakat Sejarah Indonesia.

    Apa harapan Pak Ajip terhadap Habibie Award?
    Yayasan jangan angkat juri yang melakukan penilaian tidak berdasarkan karya. Ini karena yang dinilai bukan karyanya. Dan saya kecewa ternyata yayasan membela juri, harusnya dia membela Habibie. Harusnya membela Habibie karena Habibie yang mengeluarkan uang. Tapi Wardiman (Wardiman Djojonegoro, Ketua Yayasan SDM Iptek Habibie Center), orang kepercayaan Habibie, dia lebih membela juri.

    Ketika saya bilang yayasan telah kecolongan, dia membela juri sudah kerja profesional dan sesuai dengan etika keilmuan dan yayasan tidak pernah kecolongan. Dia bilang begitu. Jadi menolak.

    Saya beritahukan dia secara halus, mengatakan yayasan telah kecologan. Jadi saya kecewa betul karena Pak Habibie tidak pernah dibela. Padahal Habibie punya ide bagus, memberikan penghargaan kepada ilmuwan dan budayawan Indonesia, mengeluarkan uang cukup banyak buat Indonesia. Harusnya kan didorong semua orang. Tapi ketika ada juri yang tidak melakukan pekerjaan secara profesional, yayasan juga malah membela juri. Itu yang menyebabkan saya sedih.

    Sedikit flashback ke pengembalian Habibie Award. Pak Ajip waktu itu datang langsung ke yayasan, siapa yang menerima pengembalian piagam Habibie Award?
    Yang terima satpam. Pak Wardiman janji jam 11.00 WIB. Saya datang 10.30 WIB. belum datang. Jam 11 kurang 10 saya minta tolong Hasan Alwie, pensiunan Kepala Pusat Bahasa, dekat dengan Pak Wardiman. Saya minta tolong Hasan Alwie supaya memberitahu Wardiman bahwa saya sudah menunggu di kantornya. Dia dua kali telepon tak diangkat, lalu kirim SMS. Jawaban (Wardiman) “Yah, SMS-nya sudah diterima.” Jadi tidak menjawab isi yang beritahukan bahwa saya sudah menunggu.

    Akhirnya sekretaris Wardiman, saya bilang terima saja sama sekertaris. Tidak mau dia (sekretaris). Karena selama ini belum pernah ada orang yang mengembalikan Habibie Award. Baru sekarang orang yang mau mengembalikan hadiah itu kan. Dia nggak mau terima. Ya sudah, satpam saja yang terima.

    Pak Ajip mengembalikan piagam dan uangnya?
    Uangnya tidak. Sebab si sekretaris tidak mau terima. Kalau uangnya masa saya kasih ke satpam. Kalau uang kan bisa dikirimkan ke bank.

    Selesai wawancara, Ajip Rosidi kemudian memberi buku berjudul Masa Depan Budaya Daerah: Pikiran dan Pandangan Ajip Rosidi. Menurutnya, wartawan harus banyak membaca buku. Jika tidak, apa yang mau ditanyakan wartawan kepada narasumber?

    Di buku yang sudah mengalami cetakan tiga kali itu, Ajip menyajikan empat tulisan yang mengkritik buku Sejarah Tatar Sunda, buku yang ditulis tim yang dipimpin Nina Lubis. Ajip menyebut buku Sejarah Tatar Sunda sebagai buku memalukan sekali. Hingga wawancara ini ditulis, Kabar Kampus belum berhasil menghubungi Nina Lubis. []

    - Advertisement -

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here