More

    Margi Wuta, Merasakan Teater Menggunakan Nalar Buta

    Suasana pertunjukan Margi Wuta di Auditorium PSBN Wyata Guna. Foto : Fauzan
    Suasana pertunjukan Margi Wuta di Auditorium PSBN Wyata Guna. Foto : Fauzan

    Menonton pertunjukkan teater dengan mata yang  terbuka adalah pengalaman yang biasa. Namun akan menjadi berbeda, ketika penonton ditutup matanya untuk menyaksikan sebuah pertunjukkan.

    Pengalaman ini hadir dalam sebuah pertunjukkan teater Margi Wuta di Auditorium PSBN Wiyata Guna, Jalan Padjajaran, Kota Bandung, Selasa, (04/10/2016). Dalam menyaksikan pertunjukkan ini, penonton matanya ditutup dengan kain hitam dan hadir di tengah pentas.

    Mata penonton sudah ditutup sebelum masuk ruang pentas. Mereka kemudian dituntun saat masuk ruangan menuju tempat duduk yang berada di tengah panggung. Sehingga, para penonton hanya bisa mendengar dan mengalami teater melalui indera yang lain.

    - Advertisement -

    Beberapa saat setelah duduk, penonton langsung disambut dengan bunyian dan rintikan air, suara seperti persidangan Jessica yang sedang ramai di televisi, kaleng terjatuh, suara kerencengan dan suara pesawat yang seolah melintas di atas kepala.

    Jreeeng (bunyi kaleng jatuh).

    Pria A :  “Sialan jatuh,” kata seorang pria.

    Pria B : “Sudahlah Tir, tidak usah bikin kopi,”

    Pria A : Tidak bisa Har, nonton ketoprak itu paling enak sambil ngopi. Tapi ini kopi habis.  Aku ngga tau dimana Ratmi menyimpan Kopi. Air putih saja Har, nanti kalau Ratmi sudah pulang, baru kita ngopi.07-10-2016-margi-wuta-03

    Seperti itulah dialog pembuka dalam pementasan Margi Wuta. Namun tidak semua penonton mampu mendengarkan dialog dengan volume suara yang sama. Hal itu karena, penonton duduk di kursi yang berbeda. Ada yang sangat dekat kurang dari satu meter dengan pemain ada juga yang jaraknya bisa mencapai 10 meter dengan pemain.

    Pentas yang disutradarai dan ditulis oleh oleh Joned Suryatmoko ini menceritakan kehidupan sehari-hari warga di kampung. Mulai dari mendengarkan ketoprak, urusan kucing yang mencuri makanan, membicarakan kasus Jessica yang sedang ramai di televisi dan anak-anak muda bermain gitar.

    Selain itu, ada satu adegan penonton diberikan martabak yang seolah-olah dibagikan oleh para pemain. Mereka juga diajak ikut serta melempar bola, dengan intruksi yang diberikan pemain.

    Sesuai judulnya Margi Wuta yang berarti  “Karena Buta” dalam bahasa Jawa atau “Jalan Buta” dalam bahasa Indonesia, teater ini ingin mengajak penontonnya menggunakan nalar buta.

    Penonton juga tidak saja diajak untuk menonton, namun juga mengalami teater. Karena seluruh pemain dalam pementasan ini merupakan difabel netra.07-10-2016-margi-wuta-02

    Selain itu panggung pementasan juga ditita dengan tiga elemen utama yang penting untuk aktor difabel netra yaitu kain tipis sebagai penanda dinding, karpet sebagai penanda lantai dan juga suara dari speaker-speaker kecil di sekat panggung.

    “Margi Wuta yang saya tawarkan sebagai karya teater dimana pada akhirnya para pemain difabel netralah pihak yang dapat melihat. Kegelapan yang menjadi pintu utama memasuki peristiwa teater ini adalah dunia sehari-hari mereka,” kata Joned yang juga pendiri teater Gardanalla ini.

    Ia mengatakan, kemampuan pemain difable merasakan, mengenali dan mengalami ruang sangat unggul. Sehingga mereka dianggap sebagai salah satu atau mungkin satu satunya pihak yang dapat membantu menegaskan teater sebagai pengalaman “mengalami” dan bukan melulu menonton.

    “Saya berpikir di sini bagaimana jika pengalaman mengalami termasuk pengalaman di gelapan secara audiktif lewat kemunculan deru pesawat, dimana kita kehilangan akses mendengarkan,” jelasnya.

    Hal-hal auditif lainya yang dikembangkan Joned adalah pengalaman bersentuhan dengan difabel netra. Kemudian lagu Eternal Flame yang ditemukan dalam latihan petama sebagai lagu yang paling disukai, dimaknai ulang untuk melihat hubungan masyarakat umum dan difael netra yang cenderung patron- klien dalam konser amal dan praktik empatik lainnya. Selebihnya Margi Wuta tetap bersadar pada aspek-aspek awal desain yaitu sentuhan kaki dan dan suara.

    Dalam pementasan Mariwuta ini penonton juga diajak menonton dua kali, pertama, mereka menonton selama 20 menit duduk di dalam set panggung. Kemudian pertunjukkan diulang, mereka menonton dengan mata terbuka dan duduk di luar panggung.[]

    - Advertisement -

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here