More

    Ki Hajar Dewantara dan Syahid Murtadha Muthahhari

    Oleh: Anna*

    Syahid Murtadha Muthahhari (kiri), (Gambar: hajij.com). Ki Hajar Dewantara (Kanan), (gambar: 1001indonesia.net)

    Ada momen menarik per setiap tanggal 2 Mei di dua negara yang dua-duanya adalah negara muslim mayoritas, yaitu Iran dan Indonesia. Huruf depannya pun sama juga berawalan “I”. Di  Iran 2 Mei adalah hari “Guru” sedangkan di Indonesia adalah hari “Pendidikan”Nasional”. Sama-sama  tanggal peringatan sejarah penting yang mengubah jalan hidup manusia.  Hari pendidikan nasional di Indonesia berdasar pada hari lahir Ki Hajar Dewantara, hari Guru di Iran berdasar pada hari terbunuhnya Murtadha Murtahari. Keduanya juga sama hidup di zaman dengan para taghut yang berkuasa,  merampas hak-hak kehidupan manusia secara bebas. Bedanya, di Indonesia dijajah oleh negara lain  kemudian di Iran dijajah oleh pemerintahan yg amat diktator.

    Ki Hajar dan Murtadha Muthahhari (lebih populer disebut “Syahid Muthahhari”) mengorbankan kehidupan yang bersifat sementara ini dengan menggaet (guide) masyarakat ke jalan yang terang, mirip misi seorang Nabi. Melalui perjuangan mereka, masyarakat berhutang banyak kepadanya.

    - Advertisement -

    Murtadha Muthahhari 

    Seorang yang terkenal dengan kepiawaiannya dalam berceramah, filusuf, ahli politik, taat beragama di abad ke 14 hijriah. Maka menjadi tak mengherankan bila musuh enggan mengizinkannya hidup di tengah masyarakat berlama-lama, sebab menjadi ancaman besar bagi kepentingan mereka.  Musuh dengan cara pengecut menerornya melalui tembakan setelah keluarnya beliau dari sebuah rapat, kemudian  menghembuskan nafas terakhirnya di rumah sakit, sebuah tindakan biadab yang telah menghancurkan pelita penerangan. Murtadha Muthahhari dianggap sebagi perusak rezim diktator Syah Reza Pahlevi karna mendukung dan berkiblat penuh atas gagasan Imam Khomeini. Imam Khomeini meskipun dalam pengasingan ke Iraq  dan Prancis, sang murid ini tetap mengunjunginya, demi misi Revolusi Islam Muhammadi.

    Selain giat berorasi di kalangan mahasiswa dan masyarakat umum lainnya yang penuh semangat dan mencerahkan masyarakat, beliau juga aktif melakukan perlawanan lain  secara terus menerus dan cerdas demi membantah kaum marxisme melalui tulisan. Melalui pemikiran yang bersih dan konsep yang cemerlang,  beliau mampu menjelaskan dan mengajarkan pada manusia arti Islam sesungguhnya menggunakan bahasa yg mudah. 

    Kesalahan terbesar barat adalah menyerang Islam dengan alasan-alasan yg serba tidak masuk akal dan konyol, dan di antara semua itu dijawab oleh Murtadha muthahhari melalui ceramah dan literasi. Ketulusan serta keikhlasan hati dan peran besar yang ia mainkan selama hidupnya mengantarkan beliau ke maqam yg tinggi, hingga di hari terbunuhnya di tetapkan sebagian hari Guru, dan digelari seorang yg syahid. Warisan yg abadi syahid Muthahhari bisa dirasakan hingga sekarang adalah buku-buku karya beliau, di antaranya: Hijab, Masyarakat dan Sejarah dan Manusia yang Seutuhnya.

    Ki Hajar Dewantara 

    Seorang yang ahli di bidang jurnalistik dan politik dan akhirnya terjun langsung ke dunia pendidikan, kemudian mengubah semua tatanan kehidupannya yang mulus menuju kehidupan yang penuh terjal. Sebuah lembaga pendidikan yang berdiri di kota Jogja yang ia bangun bersama dua sahabat satu pemikiran (tiga serangkai) bernama “Taman Siswa” sebagai bentuk resistensi kultural terhadap koloniaslisme kala itu guna mencerdaskan masyarakat adalah kuncinya.

    Kemahiran dalam menulis adalah senjata yang kuat untuk mengutarakan protes dan anti terhadap kejahatan Belanda, sehingga Belanda pun takut atas hal tersebut dan dianggap menghasut masyarakat untuk melawan koloni. Untuk membendung aktivitas Ki Hajar yang masif tersebut, maka Belanda memutuskan untuk mengasingkan ke negeri penjajah itu sendiri, Belanda. Upaya penjajah ternyata malah tidak sesuai harapan, justru dengan diasingkanya Ki Hajar, menjadi sebuah batu loncatan besar untuk menimba ilmu melalui ikut kelas pendidikan di sana dan dan aktif menulis di majalah-majalah.

    Pendiri Indische Partij itu melalui setiap ritme kehidupannya tidak dengan mudah, tetapi itulah yang membuatnya menjadi manusia penuh arti dan manfaat pada negeri Indonesia raya. Role model apik yang harus dijadikan pijakan Generasi Z. Kedua manusia yg menyibukkan diri untuk menuntun umat ke jalan selamat. 

    Selamat hari pendidikan sekaligus selamat hari guru, semoga semangat kita selalu seperti para pahlawan pejuang bangsa, kuat, berani dan aktif. 

    Guru… keberadaan mu bak cahaya, untuk menerangi dari masa ketidaktahuan menuju berpengetahuan.

    *Penulis adalah Mahasiswi Al-Mustafa Internasional University Iran

    - Advertisement -

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here