More

    Menulislah, Bung Rocky!

    Oleh: Waskito Giri S*

    Rocky Gerung. (Foto: Instagram Rocky Gerung)

    RG (Rocky Gerung) intens mengkritik pemerintah Jokowi, tapi amat disayangkan RG sedikit atau tak menulis kritiknya. Entah mengapa, RG terlihat sengaja mengambil modus lisan ketimbang tulisan. Awalnya ucapan RG diharapkan jadi kritik sosial, sekaligus ekspresi kegelisahan publik terkait problem pengelolaan negara. Tapi, karena satu atau lain hal, ucapan RG justru tampak distorsi dan tak berhasil menyuarakan substansinya. Padahal RG berulang-ulang teriak, namun ucapannya itu ibarat bunyi orang teriak di ruangan hingar bingar sebuah diskotik.

    Manusia berpikir dengan bahasa dan mengomunikasikan pikirannya juga menggunakan bahasa. Supaya pikiran yang hendak diutarakan dengan bahasa dapat tertata rapi dan sistematis sehingga dipahami orang lain tentu manusia membutuhkan piranti logika. Dan logika itulah topik utama sekaligus concern issue RG selama ini. 

    - Advertisement -

    Ya, meskipun sama-sama sebagai fenomena ekspresi kebahasaan, namun jelas berbeda antara kelisanan di satu sisi dan kebertulisan-–atau meminjam istilah A. Teeuw ”keberaksaraan”—di sisi lain. Ekspresi kebahasaan ini–lisan dan tulisan–selain memiliki struktur ‘logic’ yang berbeda satu dengan lainnya, masing-masing juga memiliki ruang lingkup kelebihan sekaligus keterbatasannya.

    Modus lisan cenderung bekerja dengan nalar spontan. Bukan hanya memandang penting fungsi intonasi dan aspek puitisasi bunyi dan seni retorika, modus lisan juga mensyaratkan kehadiran subjek sebagai bentuk interaksi langsung antara pelisan dan pendengarnya. Dengan begitu modus lisan juga memandang penting mimik dan gestur untuk memberi tekanan artikulasi makna atau arti terkait hal-ihwal realitas atau objek melalui wicara.

    Pun kita tahu, kekuataan ekspresi modus lisan itu sanggup menghadirkan aura magis yang impresif. Ingat, pembacaan puisi WS Rendra, misalnya. Di tengah mekarnya sosmed posisi modus lisan jika berhasil dikemas baik melalui kecanggihan format audio-visual mampu menghadirkan efek seni dramaturgi memikat, tanpa seseorang terlebih dulu harus menjadi si Burung Merak.

    Namun praksis hermeneutika melalui mediasi bahasa lisan, toh tetaplah kurang mampu mendudukkan subjek untuk mengambil jarak (distance) dari hal-ihwal realitas atau objek yang didiskusikan. Implikasinya di tengah “tsunami informasi”, seperti fenomena RG kali ini, ucapan malah sekadar mencipta kebisingan atau bahkan “gema gua” (echo chamber) yang semakin gaduh karena diduplikasi algoritma yang bekerja di balik instrumen sosmed.

    Bersambung ke halaman selanjutnya –>

    - Advertisement -

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here