More

    Jakarta, Suar yang Menjaga Mimpi Republik

    Kemudian, sejarah menuliskan dirinya sendiri di Jakarta, pada 1928 pertemuan kongres pemuda II menghasilkan sumpah pemuda. Jakarta menjadi saksi di mana ikrar suci dikumandangkan:

    “Satu Tanah Air, Satu Bangsa, dan Satu Bahasa—Indonesia. Tiga janji yang kelak menjelma menjadi fondasi persatuan dari Sabang sampai Merauke. Tempat rumah kebangsaan Indonesia dibangun.  

    Jakarta menjadi panggung awal ide republik, menandai sejarah Indonesia modern dirangkai. Jakarta menjadi tempat gagasan persatuan bangsa lahir. 

    - Advertisement -

    Pada 1945, saat Jepang menyerah dan ancaman kedatangan kembali Belanda membonceng sekutu membayangi, Indonesia berada di persimpangan. Vacuum of power, kekosongan kekuasaan menciptakan kegamangan sekaligus momentum politik. Di tengah kemelut sejarah, Indonesia menitahkan kisahnya sendiri. Proklamasi kemerdekaan di rumah kecil di Pegangsaan Timur dibacakan oleh Soekarno-Hatta. Indonesia menegaskan kepada dunia sebagai bangsa yang merdeka. 

    Jakarta kembali menjadi tempat pagelaran sejarah itu dihelat. Kota yang menjadi ide awal republik menjadi tempat ketika republik itu meraih kemerdekaannya.  

    Kota ini menjadi nadi yang berdetak dengan tekad dan spirit sebuah bangsa yang menolak tunduk dan memahami arti kehormatan dan solidaritas. Suatu waktu Bung Karno mengatakan, “Jakarta harus menjadi kota mercusuar yang memancarkan jati diri bangsa.” 

    Dalam visi di era kemerdekaan, Jakarta ditenun dengan kesadaran historis. Visi founding parents menempatkan Jakarta bukan hanya sebagai pusat pemerintahan dan ekonomi, melainkan cerminan kepribadian bangsa dan pijar bagi perjuangan seluruh umat manusia melawan kolonialisme dan imperialisme.  

    Bersambung ke halaman selanjutnya –>

    - Advertisement -

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here