Elbit Systems sendiri dikenal sebagai salah satu perusahaan pertahanan terbesar Israel yang memasok sebagian besar kebutuhan drone dan peralatan militer. “Di mana pun Elbit Systems dan kaki tangannya menyembunyikan dan menutupi bisnis pertumpahan darah mereka di seluruh dunia, kami akan datang untuk mereka.”
Perusahaan ini juga menjadi sasaran gerakan global Boycott, Divestment, and Sanctions (BDS) yang menyoroti keterlibatannya dalam konflik di Palestina. Sementara itu, situasi kemanusiaan di Jalur Gaza dilaporkan semakin memburuk. Pembatasan distribusi bantuan oleh Israel menyebabkan pasokan hanya mencapai sekitar 10 persen dari kebutuhan, dengan 640 truk bantuan yang diizinkan masuk dari total 6.000 yang dibutuhkan.
Kondisi ini memperparah krisis pangan dan mendorong lebih dari 1,5 juta warga ke dalam ancaman kelaparan. Di sisi lain, dinamika konflik juga melibatkan tekanan politik dari Amerika Serikat terhadap negara-negara Teluk. Presiden Donald Trump disebut berupaya menekan sekutu di kawasan tersebut untuk mendukung perang melawan Iran, baik secara militer maupun finansial.
Seorang jurnalis Oman, Salem Al-Jahouri, dalam wawancara dengan BBC Arabic menyatakan bahwa tekanan tersebut nyata terjadi. “Ini benar sekali. Negara-negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk menghadapi tekanan, baik tekanan militer maupun tekanan finansial,” ujarnya.
Ia juga mengungkapkan adanya tuntutan dana dalam jumlah besar dari Amerika Serikat. “Hari ini kita membahas beberapa bocoran informasi di mana presiden Amerika menuntut agar negara-negara GCC membayar sekitar $5 triliun jika mereka ingin perang ini berlanjut, dan jika mereka ingin perang ini berhenti, mereka harus membayar $2,5 triliun kepada Amerika Serikat atas apa yang telah dicapai selama periode terakhir,” jelasnya.
Negara-negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) sebelumnya telah menyatakan penolakan terhadap konflik yang dimulai pada 28 Februari, serta membantah memberikan izin penggunaan wilayah mereka untuk operasi militer. Namun, laporan menunjukkan adanya aktivitas militer AS dari kawasan tersebut.
Sebagai respons, Iran melancarkan serangan balasan yang menargetkan infrastruktur strategis di negara-negara Teluk, termasuk fasilitas minyak dan gas. Penutupan Selat Hormuz juga berdampak signifikan terhadap produksi dan distribusi energi global.
Dampak ekonomi pun mulai dirasakan, dengan negara-negara seperti Uni Emirat Arab, Qatar, Arab Saudi, dan Bahrain mengalami kerugian akibat penurunan pendapatan minyak dan sektor pariwisata. Perkembangan ini menunjukkan bahwa konflik yang awalnya bersifat regional kini semakin meluas, melibatkan berbagai aktor global serta berdampak pada stabilitas ekonomi dan kemanusiaan di berbagai Kawasan.






