Pihak kampus juga memastikan bahwa legalitas program tidak perlu diragukan, termasuk bagi aparatur sipil negara. Rencana ini mendapat sambutan positif dari pimpinan pesantren setempat. “Bagi PNS tidak perlu khawatir. Program ini legal dan ijazahnya diakui oleh Badan Kepegawaian Negara,” katanya.
Puji Raharjo menilai kehadiran kampus baru sebagai langkah strategis dalam mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia di Banjarnegara. “Ini bagian dari upaya percepatan pembangunan manusia. Potensi SDM Banjarnegara sebenarnya besar, tapi belum didukung iklim akademik yang kuat,” ujarnya.
Ia juga menyoroti bahwa masih banyak masyarakat yang kesulitan melanjutkan pendidikan tinggi karena keterbatasan biaya, sehingga kehadiran kampus dengan biaya terjangkau menjadi sangat relevan dengan kebutuhan daerah. “Kami berharap hal ini segera terwujud, agar iklim akademik di Banjarnegara terbangun. Potensi SDM Banjarnegara sebenarnya sangat baik, namun kesempatan untuk mengembangkan hal itu dan juga iklim akademik belum terbangun. Dengan kehadiran kampus baru ini semoga turut mendorong peningkatan indeks pembangunan manusia di Banjarnegara,” ujarnya.
Dukungan serupa datang dari masyarakat. Salah satu peserta sosialisasi, Indra Purnama, mengaku antusias dengan rencana tersebut dan menilai program ini sebagai solusi konkret bagi persoalan pendidikan di daerah. “Ini seperti gayung bersambut. Pendidikan tinggi yang terjangkau bisa menjadi jawaban atas kebutuhan masyarakat Banjarnegara,” ungkapnya.
Dengan hadirnya Institut Agama Islam Banjarnegara, diharapkan semakin banyak generasi muda yang memiliki kesempatan melanjutkan pendidikan tinggi tanpa terbebani biaya tinggi. “Ini gayung bersambut, saya kira pendidikan tinggi yang terjangkau akan menjadi salah satu solusi permasalahan pendidikan di Banjarnegara,” ujar pegiat literasi dari Rumah Baca Purnama Desa Luwung itu.
Selain itu, keberadaan kampus ini juga diharapkan mampu mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia serta mempercepat pembangunan daerah secara berkelanjutan.






