Mengutip diktum kritikus Sanento Yuliman bahwa “perupa zaman ini berbeda dengan perupa zaman dahulu”, kurator menegaskan pameran ini merupakan bentuk interupsi estetika sekaligus pemetaan lanskap perkembangan seni rupa kontemporer yang tumbuh di wilayah periferal.
“Visi kami membangun Artmeru tidak berhenti pada fungsi ruang ritel semata. Sejak awal, kami ingin menciptakan ekosistem seni dan desain yang dekat dengan masyarakat; menghadirkan ruang yang mudah diakses, murni, layak, dan berkelanjutan bagi para seniman untuk mempresentasikan karyanya,” ungkap Sulung Christian Ang, Co-Owner Artmeru Gallery.
Guna mewujudkan ekosistem seni yang berkelanjutan (sustainability), pameran “Mukadimah” juga mengintegrasikan proyek ritel eksklusif bernama A-Merch (Toko Seni & Desain).

Artmeru berkolaborasi langsung dengan para perupa yang terlibat untuk memproduksi merchandise orisinil resmi—mulai dari cetakan seni terbatas, kaos seni, hingga zine. Melalui sistem kemitraan bagi hasil yang transparan, langkah ritel ini didesain sebagai strategi konkret untuk mendekatkan napas karya seni ke dalam keseharian masyarakat luas sekaligus menyokong kemandirian ekonomi para seniman.
Eksibisi bersama ini menyajikan spektrum estetik yang sangat kaya melalui karya perupa lintas generasi seperti Antoe Budiono, Bagus Priyo, Bambang BP, Gatot Kumaidi, Gatot Pujiarto, Heri Catur Prasetya, Isa Ansory, Lutfi Ardiansyah, Muzeian, Ojite Budi Sutarno, Osyadha Ramadhana, Patricia Thebez, Purnomo Sigit, Rizky Alison, Romy Setiawan, Suwandi Waeng, Toyol Dolanan Nuklir, Victor Syahrul Akbar, Wibi Wardhani, Yawara Oki Rahmawati, Lidos Community, dan Syntetika.
Pameran terbuka untuk seluruh lapisan masyarakat dengan tiket harga tiket masuk Rp15.000. Armeru mengundang publik luas untuk menjadi saksi titik mula poros baru seni rupa Jawa Timur.






