
Kepemimpinan yang Inklusif: Memberi Ruang bagi Beragam Cara Memimpin
Dalam konteks pengembangan talenta masa depan, Dr. Stephanie juga menyoroti pentingnya kepemimpinan yang inklusif sebagai bagian dari proses pendidikan. Ia menegaskan bahwa pendidikan perlu membuka ruang bagi beragam gaya kepemimpinan.
“Satu hal yang saya pelajari adalah bahwa potensi tidak selalu terlihat secara langsung. Ada orang yang memimpin dengan rasa percaya diri dan kemampuan komunikasi yang kuat, tetapi ada juga yang menunjukkan kepemimpinan melalui kebijaksanaan, konsistensi, empati, dan pelayanan,” ungkap Dr. Stephanie.
Ia menekankan pentingnya pendidikan yang memberi ruang setara bagi setiap individu untuk berkembang dan mengambil peran kepemimpinan. Untuk itu, UPH membangun ekosistem pengembangan kepemimpinan yang terstruktur bagi dosen dan mahasiswa.
Untuk dosen, pengembangan dilakukan melalui jalur kompetensi, mentoring, pengembangan profesional, serta berbagai kesempatan kepemimpinan di berbagai bidang. Sementara bagi mahasiswa, kepemimpinan dibangun sejak dini melalui mentoring sebaya (peer mentoring), riset, serta peluang di berbagai bidang termasuk STEM.
Menjembatani Pendidikan dan Kebutuhan Dunia Kerja
Lebih lanjut, Dr. Stephanie turut menggarisbawahi bahwa tantangan utama pendidikan saat ini adalah memastikan lulusan memiliki kompetensi yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja. Ia menilai masih terdapat kesenjangan antara kebutuhan industri dan sistem pendidikan yang perlu dijembatani.
“Universitas perlu bergerak menjadi penghubung antara pendidikan, industri, dan inovasi. UPH sendiri terus memperkuat peran tersebut melalui pengembangan kurikulum lintas disiplin, kemitraan dengan lebih dari 150 mitra industri, penguatan riset terapan, pengembangan startup mahasiswa, program magang, dan berbagai inisiatif pembelajaran berbasis pengalaman nyata,” ujarnya.
Upaya tersebut diperkuat melalui tiga fokus utama, yakni penyelarasan pendidikan dengan kebutuhan industri dan masyarakat melalui pembelajaran kontekstual seperti project-based learning, magang, dan capstone project; pengembangan pembelajaran multidisiplin di bidang-bidang baru seperti hukum dan teknologi, AI dan kesehatan, serta data science dan kebijakan publik; serta penguatan kemitraan pemerintah–industri–pendidikan melalui skema public-private partnership.
Berbagai inisiatif turut mendukung implementasi tersebut, termasuk STEM Indonesia Cerdas yang menjangkau 10 juta siswa dan 1 juta guru, Center for Teaching and Learning untuk pengembangan dosen, Campuspreneur untuk mendorong wirausaha muda berorientasi ekspor, Human Development Training untuk penguatan kapasitas sumber daya manusia, Sparklabs Incubation bagi pengembangan startup mahasiswa, serta UPH Investment Gallery bersama Sucor Sekuritas untuk memperkuat literasi dan pengalaman investasi mahasiswa di pasar modal.
Bangun Masa Depan Melalui Kolaborasi
Bersambung ke halaman selanjutnya –>






