More

    Masa Depan Ekonomi Halal RI?

    Diskusi publik bertajuk “Masa Depan Ekonomi Halal RI” di Kampus Universitas Paramadina Cipayung, Jakarta, pada Rabu (22/7). (ist)

    JAKARTA, KabarKampus – Universitas Paramadina bekerja sama dengan Center for Sharia Economic Development (CSED) INDEF menyelenggarakan diskusi publik bertajuk “Masa Depan Ekonomi Halal RI” di Kampus Universitas Paramadina Cipayung, Jakarta, pada Rabu (22/7). Kegiatan yang mempertemukan akademisi, pelaku usaha, dan pemangku kepentingan ini membahas strategi memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pusat ekonomi halal dunia.

    Forum tersebut menggarisbawahi bahwa industri halal global terus menunjukkan pertumbuhan yang signifikan. Berdasarkan Global Islamic Economy Indicator (GIEI) 2025/2026, nilai ekonomi halal dunia telah mencapai USD 2,6 triliun pada 2024 dan diproyeksikan meningkat menjadi USD3,56 triliun pada 2029. Namun, di tengah besarnya potensi tersebut, Indonesia justru berada di peringkat keempat dalam GIEI 2025/2026, turun satu tingkat dibandingkan tahun sebelumnya. Kondisi ini menunjukkan bahwa besarnya populasi muslim dan pasar domestik belum sepenuhnya mampu diterjemahkan menjadi keunggulan kompetitif di tingkat global.

    Membuka acara, Rektor Universitas Paramadina, Prof. Didik J. Rachbini, menegaskan komitmen Universitas Paramadina dalam memperkuat pengembangan ekonomi dan keuangan syariah melalui pendidikan, riset, dan kolaborasi strategis. “Universitas Paramadina telah memiliki Program Magister Manajemen Keuangan Syariah dan Program Doktor Manajemen Keuangan Syariah. Kedua program tersebut akan terus kami kembangkan sebagai bagian dari kontribusi akademik dalam memperkuat ekosistem ekonomi syariah nasional. Selain itu, Pak Arsjad juga telah memberikan kontribusi nyata melalui wakaf Kampus Cikarang beserta tiga gedungnya sebagai implementasi nilai-nilai ekonomi syariah,” ujar Prof. Didik.

    - Advertisement -

    Sebagai moderator, Dr. Handi Risza, Wakil Ketua Center for Sharia Economic Development (CSED) INDEF, menyampaikan bahwa forum ini diharapkan menjadi ruang strategis untuk memperkuat arah pengembangan ekonomi syariah Indonesia. Menurutnya, besarnya potensi pasar belum cukup untuk membawa Indonesia menjadi pemimpin ekonomi halal dunia apabila tidak diiringi pembangunan ekosistem yang terintegrasi. “Forum ini kami harapkan menjadi ruang bertukar gagasan yang dapat melahirkan rekomendasi strategis bagi penguatan ekonomi syariah nasional. Indonesia memiliki potensi yang sangat besar, namun potensi tersebut harus didukung oleh ekosistem yang saling terintegrasi,” kata Handi.

    Ia menjelaskan bahwa pangsa pasar industri keuangan syariah Indonesia hingga kini masih berada di kisaran 7 persen, sehingga belum mencerminkan besarnya potensi yang dimiliki. Di sisi lain, pengembangan industri halal nasional juga masih tertinggal dibandingkan beberapa negara, termasuk Uni Emirat Arab, yang dinilai berhasil membangun ekosistem halal secara lebih komprehensif.

    Handi menilai percepatan ekonomi halal nasional harus bertumpu pada tiga pilar utama, yakni Capital, Governance, dan Inclusivity (CGI). Dari aspek capital, Indonesia masih menghadapi keterbatasan inovasi dan variasi produk keuangan syariah dibandingkan negara seperti Malaysia. Pada aspek governance, penguatan regulasi, kelembagaan, dan koordinasi antarinstansi menjadi pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan.

    Sementara itu, aspek inclusivity menuntut agar manfaat ekonomi syariah dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat melalui pemberdayaan sektor riil, termasuk optimalisasi instrumen ZISWAF (Zakat, Infak, Sedekah, dan Wakaf). Menurut Handi, ketiga pilar tersebut hanya dapat diwujudkan apabila didukung oleh komitmen dan political will yang kuat dari pemerintah sehingga industri halal dapat menjadi salah satu penggerak utama pertumbuhan ekonomi nasional.

    Bersambung ke halaman selanjutnya –>

    - Advertisement -

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here