More

    Mahasiswa UPH Ubah Tulang dan Kulit Ikan Lele Jadi Cookies hingga Keripik

    Memaksimalkan Lele, dari Pangan hingga Pupuk

    Melalui konsep zero waste, tim LESTARI mengembangkan sejumlah produk dengan memanfaatkan berbagai bagian ikan lele. Salah satu pemanfaatannya adalah pengembangan cookies berbahan tulang dan kepala lele, yang terinspirasi dari penelitian Prof. Adolf bersama mahasiswa sebelumnya, mengenai pemanfaatan tulang lele. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa tulang lele memiliki kandungan kalsium mencapai 1.650 mg per 100 gram, sehingga berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan pangan bernilai gizi.

    Potensi tersebut juga disesuaikan dengan kondisi masyarakat di Tigaraksa. Berdasarkan data Pemerintah Kabupaten Tangerang, terdapat 1.632 kasus stunting di Tigaraksa pada 2025.

    - Advertisement -

    “Hal ini menjadi salah satu pertimbangan tim dalam mengembangkan cookies berbahan tulang lele. Selain mudah dikenal dan dikonsumsi oleh berbagai kalangan, termasuk anak-anak, cookies berbahan tulang lele diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif pangan yang turut mendukung pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat,” ucap Joanna.

    Dalam proses pengolahan, tulang dan kulit lele terlebih dahulu dipisahkan. Tulang kemudian dipresto untuk membantu mengeluarkan minyak yang terkandung di dalamnya sebelum dikeringkan menggunakan cabinet dryer.

    Cabinet dryer ini prinsipnya sama seperti pengeringan menggunakan sinar matahari. Bedanya, proses menggunakan cabinet dryer lebih cepat dan waktunya lebih terkontrol. Namun, metode pengeringan dengan sinar matahari tetap bisa diterapkan oleh masyarakat,” ucap Joanna.

    Sementara itu, kulit lele diolah menjadi keripik dengan mempertimbangkan karakteristik bahan dan potensi pasar. Kulit lele mengandung lemak dan kolagen, yang menjadi salah satu pertimbangan dalam pemanfaatannya sebagai bahan pangan bernilai tambah. Karakter keripik yang renyah juga dinilai sesuai dengan preferensi masyarakat terhadap makanan ringan.

    Untuk mengolahnya, kulit lele dimarinasi menggunakan jeruk nipis dan garam untuk mengurangi bau amis, kemudian dicuci dan dikeringkan menggunakan food dehydrator. Masyarakat juga dapat menggunakan sinar matahari sebagai alternatif. Setelah kering, kulit dapat langsung digoreng hingga mengembang dan menghasilkan tekstur yang renyah.

    Konsep zero waste LESTARI juga tidak berhenti pada pengolahan tulang dan kulit ikan lele. Bagian lain seperti organ dalam lele serta air bekas pencucian selama proses pengolahan turut dimanfaatkan sebagai bahan pupuk organik. Joanna mengatakan, organ dalam lele merupakan bahan organik yang mengandung protein dan asam amino yang dapat menjadi sumber nutrisi bagi tanaman. 

    Pemanfaatan tersebut disesuaikan dengan potensi masyarakat Tigaraksa. Sejumlah UMKM di wilayah tersebut bergerak di bidang media tanam dan pupuk, sehingga sisa dari proses pengolahan lele dapat dimanfaatkan kembali dan berpotensi menghasilkan nilai ekonomi baru. 

    “Sebagai mahasiswa Teknologi Pangan, kami melihat bahwa pangan tidak hanya dapat dinilai dari produk utamanya saja, tetapi juga dari bagaimana kita dapat memanfaatkan keseluruhan bahan secara optimal. Langkah ini sekaligus menambah nilai ekonomi dari komoditas yang ada,” kata Joanna.

    Siapkan Masyarakat Bangun Usaha secara Mandiri

    LESTARI tidak hanya berfokus pada pengembangan produk, tetapi juga mempersiapkan masyarakat agar mampu mengembangkan produk tersebut menjadi usaha yang berkelanjutan. Melalui hibah tersebut, tim melaksanakan sejumlah kegiatan, dimulai dengan Sosialisasi Program PPK Ormawa LESTARI pada 22 Juni 2026, dilanjutkan Pelatihan Pembuatan Produk pada 8 Agustus 2026. Selanjutnya, pada 22 Agustus 2026, masyarakat mengikuti Pelatihan Legalitas, Branding, dan Digital Marketing yang dilaksanakan berkolaborasi dengan PT Mikrobisnis Digital Sejahtera (INAmikro).

    Seluruh kegiatan berlangsung di Gucang Farm, Tigaraksa dengan melibatkan 40 masyarakat yang terdiri dari kelompok budidaya dan pengolahan lele, Ibu-Ibu PKK, Karang Taruna, serta pelaku UMKM. Program ini juga melibatkan 16 mahasiswa UPH dari tujuh program studi, yakni Teknologi Pangan, Manajemen, Teknik Industri, Teknik Elektro, Desain Komunikasi Visual (DKV), Teknik Sipil, dan Hukum. 

    “Kami melibatkan mahasiswa dari berbagai bidang karena permasalahan yang dihadapi masyarakat cukup beragam. Tidak hanya terkait pengolahan produk, tetapi juga mencakup bisnis, legalitas, pemasaran, desain, hingga penerapan teknologi,” ucap Joanna.

    Setiap program studi memiliki peran sesuai bidang keilmuannya. Mahasiswa Teknologi Pangan menangani pengembangan produk, keamanan, kualitas, dan umur simpan. Manajemen mendampingi pengelolaan bisnis, termasuk perhitungan Harga Pokok Produksi (HPP), strategi bisnis, dan pemasaran digital. Hukum mendampingi aspek legalitas usaha dan produk, sementara DKV mengembangkan desain kemasan dan identitas visual produk. Teknik Industri berperan dalam meningkatkan efisiensi proses produksi, Teknik Elektro menangani kebutuhan teknologi dan kelistrikan, sedangkan Teknik Sipil mendukung penyediaan sarana dan prasarana.

    Inovasi Lele, Hadirkan Dampak Nyata

    Bersambung ke halaman selanjutnya –>

    - Advertisement -

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here