Inovasi Lele, Hadirkan Dampak Nyata
Pemanfaatan berbagai bagian ikan lele tersebut diarahkan untuk menghasilkan diversifikasi produk sekaligus meningkatkan nilai ekonomi bagi masyarakat. Melalui LESTARI, tim menargetkan masyarakat dapat memanfaatkan hingga 90% bagian ikan lele dan menghasilkan dua hingga tiga produk olahan baru. Program ini juga menargetkan peningkatan produksi hingga 60% serta kenaikan omzet hingga 50%.
“Sebelum program ini berjalan, omzet mereka hanya berkisar Rp700 ribu hingga Rp900 ribu per minggu dan masih mengandalkan penjualan daging lele. Setelah LESTARI diterapkan, omzetnya meningkat signifikan hingga mencapai sekitar Rp3,4 juta per minggu. Artinya, melalui pemanfaatan bagian ikan lele yang sebelumnya belum optimal, masyarakat tidak hanya menghasilkan produk baru, tetapi juga berhasil meningkatkan nilai ekonomi dari hasil budidayanya,” jelas Joanna.
Peningkatan tersebut memperlihatkan potensi pendekatan zero waste dalam membuka diversifikasi produk dan sumber pendapatan baru. Dengan mengolah bagian lele yang tidak dimanfaatkan secara optimal, komoditas yang telah menjadi bagian dari aktivitas masyarakat dapat menghasilkan nilai tambah yang lebih besar.
Menghubungkan Ilmu di Kampus dengan Kebutuhan Masyarakat
Bagi tim LESTARI, keberhasilan program tidak hanya diukur dari terlaksananya pelatihan atau peningkatan omzet selama pendampingan. Keberlanjutan usaha setelah program berakhir menjadi salah satu indikator penting, termasuk kemampuan masyarakat menjalankan usaha secara mandiri dan memenuhi aspek legalitas.
Bagi Joanna dan tim, PPK Ormawa menjadi kesempatan untuk menerapkan ilmu yang diperolehnya di Teknologi Pangan UPH.
“Melalui PPK Ormawa, kami mendapat kesempatan untuk menerapkan ilmu yang diperoleh selama kuliah, khususnya dalam mata kuliah Teknologi Pengolahan Pangan, mulai dari pengolahan bahan pangan, formulasi, pemanfaatan hasil samping, keamanan pangan, hingga pengendalian kualitas produk. Ilmu tersebut kami gunakan untuk menjawab persoalan di masyarakat dengan mengolah lele secara lebih optimal, termasuk memanfaatkan bagian seperti kulit dan tulang yang sebelumnya menjadi limbah menjadi produk yang bernilai,” tutur Joanna.
Menurut Prof. Adolf, pengalaman ini juga menunjukkan bagaimana pembelajaran di perguruan tinggi dapat diterapkan untuk menjawab kebutuhan nyata di masyarakat.
“Di Teknologi Pangan UPH, mahasiswa tidak hanya belajar mengolah pangan, tetapi juga didorong untuk melihat bagaimana bahan dan hasil samping dapat dimanfaatkan menjadi sesuatu yang bernilai. Melalui praktikum, penelitian, dan pengembangan produk, mahasiswa belajar menghasilkan inovasi yang tidak hanya memiliki nilai tambah, tetapi juga dapat menjawab persoalan di masyarakat. Inilah yang menjadi salah satu kekuatan LESTARI karena program ini tidak sekadar memberikan pendampingan, tetapi juga membangun kemampuan masyarakat agar dapat mengembangkan usahanya secara mandiri,” ujar Prof. Adolf.
Respons Positif dari Masyarakat
Bersambung ke halaman selanjutnya –>






