Pendidikan sebagai Instrumen Mobilitas Sosial
Nur Ihsan Zaidi melihat pendidikan memiliki posisi strategis sebagai instrumen mobilitas sosial. Melalui pendidikan yang berkualitas, anak dari keluarga sederhana dapat memperoleh pengetahuan, keterampilan dan kompetensi yang membuka peluang untuk meningkatkan taraf hidup.
“Pendidikan adalah salah satu tangga mobilitas sosial. Anak seorang petani, nelayan, buruh, pedagang kecil atau keluarga kurang mampu harus mempunyai kesempatan yang sama untuk menjadi sarjana, profesional, pengusaha, guru, ilmuwan maupun pemimpin,” katanya.
Karena itu, menurut dia, kebijakan pendidikan gratis perlu dirancang dengan perspektif pemerataan kesempatan.
Pemerintah tidak cukup hanya memastikan sekolah tersedia, tetapi juga perlu memperhatikan kesenjangan kualitas pendidikan antardaerah, ketersediaan guru, sarana dan prasarana, akses teknologi, serta kesempatan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
“Kalau kita ingin membangun Indonesia yang maju, jangan sampai kualitas pendidikan ditentukan oleh alamat tempat seorang anak dilahirkan atau kemampuan ekonomi orang tuanya,” tegasnya.
Gratis dan Bermutu Harus Berjalan Bersama
Nur Ihsan Zaidi juga menekankan pentingnya keberlanjutan pembiayaan. Rencana pendidikan gratis di perguruan tinggi negeri, misalnya, sedang dimatangkan pemerintah dengan memperhitungkan berbagai komponen pembiayaan dan kemampuan fiskal negara.
Menurut dia, kehati-hatian dalam menyiapkan skema pembiayaan penting agar kebijakan dapat berjalan secara berkelanjutan.
“Yang kita harapkan bukan sekadar kebijakan yang baik di atas kertas, tetapi program yang benar-benar dapat dilaksanakan dan dirasakan masyarakat secara berkelanjutan,” katanya.
Ia juga mendorong agar perluasan akses pendidikan disertai penguatan kualitas tenaga pendidik. Pemerintah sendiri dalam ratas tersebut menekankan peningkatan kualitas guru melalui berbagai program pelatihan.
Jangan Lupakan Pendidikan Karakter
Bersambung ke halaman selanjutnya –>






