Perlukah Kampus Mengalihkan Perkuliahan ke Sistem Daring?
Pembelajaran jarak jauh dapat menjadi salah satu pilihan ketika kualitas udara tidak memungkinkan kegiatan tatap muka berlangsung secara aman. Melalui perkuliahan daring, mahasiswa tetap dapat mengikuti penyampaian materi tanpa harus melakukan perjalanan ke kampus.
Namun, penerapan sistem tersebut tidak selalu dapat dilakukan secara menyeluruh. Mata kuliah yang mengandalkan laboratorium, penggunaan peralatan khusus, praktik klinis, atau kegiatan lapangan membutuhkan penyesuaian berbeda dibandingkan perkuliahan berbasis diskusi dan materi bacaan.
Perguruan tinggi perlu menentukan kegiatan mana yang dapat dialihkan secara daring, mana yang harus dijadwalkan ulang, dan mana yang membutuhkan prosedur keselamatan tambahan. Kebijakan tersebut juga perlu mempertimbangkan kondisi mahasiswa. Tidak semua mahasiswa memiliki koneksi internet stabil atau fasilitas belajar yang memadai di tempat tinggalnya.
Dalam situasi darurat, fleksibilitas akademik dapat membantu mencegah mahasiswa dirugikan oleh keadaan yang tidak dapat mereka kendalikan. Penyesuaian tenggat tugas, perubahan jadwal praktikum, dan alternatif kehadiran dapat menjadi bagian dari kebijakan tersebut.
Dengan begitu, perlindungan kesehatan tidak harus berujung pada tertundanya studi atau bertambahnya beban akademik mahasiswa. Perguruan tinggi memiliki peran penting dalam memastikan lingkungan akademik tetap aman ketika terjadi krisis lingkungan. Langkah yang dapat dipertimbangkan mencakup pemantauan kualitas udara, penyampaian informasi risiko kepada sivitas akademika, serta penyesuaian kegiatan berdasarkan kondisi aktual.
Kampus juga perlu menyediakan informasi yang jelas mengenai perubahan jadwal dan prosedur yang harus diikuti mahasiswa. Keputusan yang disampaikan secara mendadak tanpa penjelasan dapat menyulitkan mahasiswa, khususnya mereka yang tinggal jauh dari kampus atau sudah terlanjur melakukan perjalanan.
Selain itu, mahasiswa perlu memiliki saluran komunikasi untuk melaporkan kendala kesehatan atau kesulitan mengikuti kegiatan akademik selama masa kabut asap. Mekanisme tersebut dapat membantu kampus menentukan bentuk penyesuaian yang sesuai tanpa mengabaikan kebutuhan setiap program studi.
Penanganan dampak polusi juga tidak dapat dibebankan kepada mahasiswa secara individual. Imbauan untuk menggunakan masker atau mengurangi aktivitas luar ruangan perlu disertai kebijakan institusi yang mempertimbangkan kondisi nyata di lapangan.
Kebakaran Hutan Bukan Hanya Persoalan Lingkungan
Bersambung ke halaman selanjutnya –>






