More

    Mengapa Mahasiswa Memilih Tak Memakai Almamater Saat Demonstrasi 20 Oktober?

    Aksi Mahasiswa Universitas Indonesia (UI) di Tugu Tani, Jakarta (10/10/2026). (Foto: Budy Santoso/Liputan6.com)

    JAKARTA, KabarKampus – Keputusan BEM UI dan sejumlah elemen mahasiswa melepas jaket almamater dalam aksi di Tugu Tani, Jakarta, menjadi cara untuk menegaskan bahwa kritik terhadap pemerintah bukan hanya urusan mahasiswa, melainkan juga masyarakat luas. Demonstrasi mahasiswa kerap identik dengan jaket almamater yang memperlihatkan asal kampus para peserta. Namun, pemandangan berbeda terlihat dalam aksi di kawasan Tugu Tani, Jakarta Pusat, pada Selasa (20/10). 

    Mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) bersama sejumlah elemen lainnya memilih turun ke jalan tanpa mengenakan almamater. Keputusan tersebut bukan sekadar perubahan penampilan. BEM UI ingin membangun aksi yang lebih terbuka dan memungkinkan mahasiswa bergerak bersama masyarakat sipil, tanpa terlalu menonjolkan identitas perguruan tinggi masing-masing.

    Koordinator Sosial dan Politik BEM UI, Hafidz Hernanda, menjelaskan bahwa langkah tersebut memang dirancang agar peserta aksi dapat membaur dengan kelompok masyarakat lainnya. “Kali ini kawan-kawan dari BEM UI akan mengadakan aksi tidak menggunakan almamater sama sekali bersama dengan teman-teman mahasiswa agar kita bisa lebih inklusif dan bisa lebih membaur dengan masyarakat sipil,” ujar Hafidz, dikutip dari ANTARA.

    - Advertisement -

    Aksi tersebut berlangsung bertepatan dengan dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Sejumlah isu yang dibawa meliputi persoalan lingkungan, ekonomi, korupsi, ruang sipil, hingga biaya pendidikan. Jaket almamater selama ini menjadi penanda identitas mahasiswa. 

    Dalam demonstrasi, atribut tersebut memudahkan publik mengenali kelompok kampus yang hadir sekaligus menunjukkan keterlibatan organisasi mahasiswa dalam menyampaikan kritik. Namun, penggunaan almamater juga membuat asal institusi menjadi salah satu hal yang paling mudah terlihat dari sebuah aksi. 

    Dengan melepas atribut tersebut, mahasiswa yang terlibat dalam demonstrasi 20 Oktober mencoba menempatkan persoalan yang mereka suarakan sebagai perhatian bersama. Wakil Ketua BEM UI 2026, Fathimah Azzahra, menyebut aksi kali ini dirancang dengan pendekatan berbeda. Mahasiswa tidak ingin kegiatan hanya didominasi pola demonstrasi yang berpusat pada orasi.

    Ia mengatakan, keputusan tersebut juga menjadi kesempatan untuk mencoba format aksi tanpa almamater dan tanpa dominasi orasi. “Ini memang salah satu bentuk kita untuk mencoba juga bagaimana sih kalau seandainya tidak memakai almamater, nggak ada orasi dan sebagainya,” ujar Fathimah, sebagaimana diberitakan Liputan6.

    Pendekatan ini memperlihatkan bahwa demonstrasi tidak harus selalu mengandalkan atribut organisasi atau kampus untuk menyampaikan pesan politik. Mahasiswa mencoba membangun ruang bersama yang memungkinkan berbagai kelompok hadir dengan keresahan masing-masing. Meski begitu, melepas almamater tidak serta-merta menghapus perbedaan kepentingan di antara peserta.

    Langkah tersebut lebih tepat dipahami sebagai upaya membangun identitas kolektif berdasarkan isu yang diperjuangkan.

    Mengapa Mahasiswa Ingin Membaur dengan Masyarakat Sipil?

    Bersambung ke halaman selanjutnya –>

    - Advertisement -

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here