More

    Mengapa Mahasiswa Memilih Tak Memakai Almamater Saat Demonstrasi 20 Oktober?

    Lima Tuntutan yang Dibawa dalam Aksi 20 Oktober

    Dalam demonstrasi di Tugu Tani, mahasiswa bersama elemen masyarakat sipil menyampaikan lima tuntutan utama kepada pemerintah. Pertama, mendesak penetapan karhutla sebagai bencana nasional dan pemulihan lingkungan. Kedua, mendorong perbaikan tata kelola ekonomi untuk mengatasi ketimpangan.

    Ketiga, menolak penyempitan ruang sipil dan militerisasi. Keempat, mendesak pemberantasan korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN). Kelima, meminta penurunan biaya pendidikan serta sistem pendidikan yang lebih berpihak kepada masyarakat. Rangkaian tuntutan tersebut memperlihatkan bahwa perhatian peserta aksi tidak terbatas pada satu sektor.

    - Advertisement -

    Isu lingkungan, kesejahteraan, demokrasi, dan akses pendidikan ditempatkan dalam satu agenda evaluasi terhadap dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran. Pemilihan Tugu Tani sebagai lokasi aksi juga berkaitan dengan fokus tersebut. Dalam pemberitaan Suara.com pada 20 Oktober, Fathimah menjelaskan bahwa tuntutan kali ini diarahkan pada persoalan yang dirasakan langsung oleh masyarakat.

    Dengan demikian, keputusan melepas almamater sejalan dengan upaya memperluas pesan gerakan, yaitu mahasiswa hadir bukan semata-mata sebagai wakil kampus masing-masing, tetapi juga sebagai bagian dari masyarakat yang memiliki kepentingan terhadap kebijakan publik. Jaket almamater tetap memiliki arti penting sebagai simbol kebersamaan dan identitas perguruan tinggi. 

    Namun, dalam aksi 20 Oktober, mahasiswa mencoba menunjukkan bahwa identitas gerakan dapat dibangun melalui persoalan dan tuntutan yang diperjuangkan bersama. Pilihan tersebut juga membuka pertanyaan mengenai bagaimana gerakan mahasiswa akan berkembang ke depan. Apakah pendekatan tanpa almamater dapat memperluas keterlibatan masyarakat sipil? Apakah format aksi yang tidak terlalu bertumpu pada orasi mampu memberi ruang lebih besar bagi beragam suara?

    Jawabannya tidak cukup ditentukan oleh penampilan peserta pada hari demonstrasi. Ukuran lainnya adalah seberapa luas partisipasi yang berhasil dibangun, seberapa jelas tuntutan disampaikan, dan apakah gerakan mampu menjaga konsistensi dalam mengawal persoalan yang diangkat.

    Pada akhirnya, melepas almamater bukan berarti mahasiswa meninggalkan identitasnya. Dalam aksi kali ini, mereka justru berusaha menunjukkan bahwa kepedulian terhadap persoalan publik tidak dibatasi oleh nama kampus. Tantangan berikutnya adalah membuktikan bahwa semangat membaur tersebut benar-benar tercermin dalam gerakan yang terbuka, terorganisasi, dan berkelanjutan. [Randy]

    - Advertisement -

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here