Konsolidasi Mahasiswa Lintas Kampus
Aksi pada 20 Oktober melibatkan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi dan unsur masyarakat sipil. BEM UI sebelumnya memperkirakan sekitar 500 hingga 700 peserta akan mengikuti demonstrasi di Tugu Tani. Sejumlah kampus yang disebut terlibat dalam konsolidasi antara lain Universitas Lambung Mangkurat, Universitas Brawijaya, Universitas Gadjah Mada, Politeknik Negeri Jakarta, Universitas Diponegoro, UPN Veteran Yogyakarta, Institut Teknologi Bandung, dan Universitas Airlangga.
Dalam demonstrasi tersebut, sebagian mahasiswa juga memilih tidak mengenakan jas almamater. Langkah itu dimaksudkan untuk mengurangi sekat identitas antarkampus sekaligus memperlihatkan keterlibatan mahasiswa sebagai bagian dari masyarakat sipil. “Kami ingin lebih membaur dengan seluruh kawan-kawan kami. Kami ingin aksi ini tidak hanya aksi BEM UI,” ujar Hafidz.
Konsolidasi tersebut menjadi perhatian menjelang 28 Oktober. Sejauh mana organisasi mahasiswa dari berbagai daerah akan terlibat dalam aksi lanjutan masih bergantung pada keputusan masing-masing kelompok dan hasil koordinasi penyelenggara. Pemilihan tanggal 28 Oktober memiliki hubungan dengan sejarah gerakan pemuda Indonesia.
Hari Sumpah Pemuda memperingati ikrar persatuan yang lahir dari Kongres Pemuda II pada 1928. Peristiwa tersebut mempertemukan organisasi pemuda dari berbagai latar belakang dalam satu cita-cita kebangsaan. Hampir satu abad kemudian, momentum yang sama kembali digunakan untuk menyuarakan persoalan yang dihadapi generasi muda.
Dalam konteks gerakan mahasiswa, peringatan Sumpah Pemuda dapat menjadi ruang untuk mempertemukan berbagai tuntutan yang selama ini disampaikan secara terpisah, mulai dari pendidikan, lingkungan, ekonomi, hingga demokrasi. Wakil Ketua BEM UI, Fathimah Azzahra, sebelumnya menekankan bahwa persoalan yang diperjuangkan mahasiswa berkaitan dengan masa depan generasi muda.
“Sadarlah Indonesia bahwa hak kita bukan hanya menuntut tidak adanya korupsi, bukan hanya menuntut agar hukum kita tidak dibeli, bukan hanya untuk menuntut bahwa hak kita tentang lingkungan hidup di hari ini dirusak, tapi hak-hak kita juga adalah tentang masa depan yang akan dititipkan pada kita,” ujar Fathimah dalam pernyataan sikap pada 20 Oktober 2026.
Pernyataan tersebut memperlihatkan upaya mahasiswa menghubungkan persoalan kebijakan pemerintah saat ini dengan kondisi yang akan diwariskan kepada generasi berikutnya. Meski demikian, momentum sejarah tidak dengan sendirinya menentukan besarnya partisipasi mahasiswa.
Kesamaan tuntutan, kemampuan konsolidasi, serta respons pemerintah akan turut memengaruhi perkembangan gerakan tersebut.
Akankah Aksi 28 Oktober Lebih Besar?
Bersambung ke halaman selanjutnya –>






