More

    UI Pimpin Perguruan Tinggi Indonesia di THE WUR 2027, Mahasiswanya Ukir Prestasi Nasional

    Bukan Sekadar Soal Reputasi Kampus

    THE WUR menggunakan sejumlah indikator untuk menilai perguruan tinggi berbasis riset. Penilaiannya dibagi ke dalam lima bidang utama, yakni teaching, research environment, research quality, international outlook, dan industry.

    Kualitas riset menjadi salah satu komponen dengan bobot terbesar, yaitu 30 persen. Pengajaran memiliki bobot 29,5 persen, sementara lingkungan riset mencapai 29 persen. Adapun international outlook berbobot 7,5 persen dan kontribusi industri sebesar 4 persen.

    - Advertisement -

    Sejumlah aspek yang diperhitungkan mencakup reputasi akademik, rasio mahasiswa dan dosen, produktivitas serta pendapatan riset, jumlah sitasi, kolaborasi internasional, paten, hingga pendapatan yang berasal dari industri. Menggunakan indikator yang berbeda, hasil THE WUR tidak dapat disamakan secara langsung dengan pemeringkatan universitas lain.

    Sebagai contoh, dalam QS World University Rankings 2027, UI berada di peringkat 191 dunia, UGM di posisi 206, dan Universitas Airlangga di peringkat 276. Perbedaan tersebut berkaitan dengan metodologi, indikator, serta bobot yang digunakan oleh masing-masing lembaga pemeringkatan.

    Di tengah capaian institusi tersebut, mahasiswa UI juga menunjukkan prestasi melalui kompetisi akademik di tingkat nasional. Tiga mahasiswa UI yang tergabung dalam Tim 9 berhasil meraih dua prestasi dalam kompetisi perpajakan nasional sepanjang 2026. 

    Mereka adalah Arsy Fathir Syam dan I Gusti Ngurah Putra Pujanandha dari Program Studi Administrasi Perpajakan Sekolah Vokasi UI serta Bintang Luthfi Arrasyidu dari Program Studi Ilmu Hukum Fakultas Hukum UI. Tim tersebut meraih Juara 2 dalam TAXNATION 2026 yang diselenggarakan Universitas Sebelas Maret (UNS), kemudian menjadi Juara 1 Kompetisi Pajak Nasional (KOMPAK) 2026 yang digelar Universitas Airlangga (UNAIR).

    Bagi anggota Tim 9, kompetisi menjadi sarana untuk menguji pemahaman yang diperoleh selama perkuliahan sekaligus menghadapi kasus perpajakan yang membutuhkan kemampuan analisis. “Kami ingin menantang diri sendiri dan mengukur sejauh mana pemahaman terhadap ilmu perpajakan yang telah dipelajari. Kompetisi seperti ini juga menjadi wadah untuk mengasah kemampuan analisis terhadap kasus perpajakan secara riil, memperluas relasi, serta membawa nama baik Universitas Indonesia di tingkat nasional,” ujar Arsy dalam rilisnya.

    Sebelum mengikuti kompetisi, ketiganya kembali mempelajari materi kuliah dan memperbanyak latihan soal. Mereka juga membagi fokus berdasarkan bidang yang menjadi kekuatan masing-masing anggota agar dapat saling melengkapi ketika menghadapi berbagai jenis persoalan.

    Dalam TAXNATION 2026 yang berlangsung 23 Mei hingga 20 Juni 2026, Tim 9 menghadapi studi kasus mengenai Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan Orang Pribadi pada babak semifinal. Pengalaman mengerjakan SPT dalam perkuliahan menjadi salah satu bekal mereka untuk menganalisis kondisi wajib pajak sekaligus mempresentasikan hasilnya di hadapan juri.

    Persaingan berlanjut pada babak final melalui beberapa tahapan, termasuk sesi wajib, lempar, dan rebutan. Tim 9 akhirnya mengamankan posisi kedua setelah bersaing ketat dengan tim lainnya. Dua bulan kemudian, mereka kembali mengikuti KOMPAK 2026 pada 22–29 Agustus. 

    Pada tahap awal, peserta harus menyelesaikan 100 soal perpajakan dalam waktu yang terbatas. Tim 9 berhasil masuk enam besar. Pada semifinal, format kompetisi berubah menjadi cerdas cermat dan lelang poin. Tim 9 mampu mengumpulkan poin tertinggi setelah memilih bidang soal yang paling dikuasai oleh masing-masing anggota.

    Babak final menghadirkan tantangan berbeda. Peserta diminta menyusun perencanaan pajak yang efisien bagi sebuah perusahaan berdasarkan studi kasus yang belum sepenuhnya mereka dapatkan secara khusus di ruang kuliah. Kemampuan membaca kasus, memahami regulasi, serta membagi peran dalam tim kemudian membawa mereka menjadi juara.

    “Tantangan yang paling terasa adalah studi kasus yang diberikan belum pernah kami bahas sebelumnya. Kami harus mengandalkan literasi, pemahaman terhadap regulasi perpajakan yang berlaku, serta kemampuan masing-masing anggota. Keunggulan yang berbeda-beda justru membuat kami saling melengkapi dalam menyelesaikan kasus tersebut,” tutur Arsy.

    Kompetensi Kuliah Diuji dalam Persoalan Nyata

    Bersambung ke halaman selanjutnya –>

    - Advertisement -

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here