Kompetensi Kuliah Diuji dalam Persoalan Nyata
Dua kompetisi yang diikuti Tim 9 memberikan pengalaman yang berbeda. TAXNATION lebih banyak menuntut kecepatan dan ketepatan dalam menjawab pertanyaan, sedangkan KOMPAK memberikan tantangan analisis yang lebih mendalam melalui studi kasus.
Arsy menilai materi yang diperoleh selama kuliah tetap menjadi dasar penting ketika mengikuti kompetisi. Namun, peserta juga perlu belajar secara mandiri ketika menemukan persoalan yang belum dibahas secara spesifik dalam perkuliahan.
“Kalau bisa memberikan nilai, kami akan memberikan 100 dari 100. Materi yang dipelajari benar-benar terpakai selama kompetisi, meskipun ada beberapa hal yang tetap harus kami pelajari secara mandiri karena belum dibahas secara khusus dalam perkuliahan,” ungkapnya.
Direktur Sekolah Vokasi UI, Safrin Arifin, mengapresiasi capaian tersebut. Menurutnya, pengalaman berkompetisi dapat mempertemukan kemampuan akademik dengan keterampilan praktis seperti analisis, adaptasi, kolaborasi, dan pemecahan masalah.
“Prestasi ini menunjukkan bahwa mahasiswa memiliki kapasitas untuk bersaing di tingkat nasional dan mampu menerapkan kompetensi yang diperoleh di bangku kuliah dalam persoalan yang lebih kompleks. Kami mendorong mahasiswa untuk terus berani keluar dari zona nyaman, mengikuti kompetisi, serta memperluas pengalaman karena proses tersebut menjadi bagian penting dalam membentuk lulusan yang kompeten, berintegritas, transformatif, dan adaptif,” jelasnya.
Capaian Tim 9 menjadi salah satu contoh bagaimana proses pembelajaran di perguruan tinggi dapat diterapkan dalam situasi kompetitif dan persoalan yang lebih kompleks. “Nilai KITA ini menjadi landasan bagi mahasiswa untuk tidak hanya unggul dalam penguasaan kompetensi, tetapi juga siap menghadapi kebutuhan dunia kerja,” lanjut Safrin.
Sementara itu, posisi UI dalam THE WUR 2027 menunjukkan capaian institusi pada indikator yang digunakan lembaga pemeringkatan tersebut. Keduanya memberikan gambaran dari sisi berbeda mengenai perguruan tinggi, yaitu kualitas institusi yang dinilai melalui indikator global serta kemampuan mahasiswa menerapkan pengetahuan dalam berbagai konteks.
Masuknya 42 perguruan tinggi Indonesia ke dalam THE WUR 2027 juga menunjukkan semakin luasnya keterwakilan kampus Indonesia dalam pemeringkatan global. Tantangan berikutnya bukan hanya mempertahankan posisi tersebut, tetapi juga memperkuat kualitas pengajaran, riset, kolaborasi internasional, serta pemanfaatan hasil penelitian agar memberikan dampak yang lebih luas.






