More

    BGN Bantah Klaim Keuntungan MBG, DPR Minta Ketua BEM UGM Laporkan Dugaan Teror

    Ketua BEM Universitas Gadjah Mada (UGM) Tiyo Ardianto saat menunjukan teror dalam bentuk pesan yang masuk ke handphonenya, Jumat (13/02/2026). (Foto: Yustinus Wijaya Kusuma/Kompas)

    JAKARTA, KabarKampus – Badan Gizi Nasional (BGN) memberikan klarifikasi atas beredarnya video yang memuat pernyataan Ketua BEM Universitas Gadjah Mada (UGM), Tiyo Ardianto, terkait dugaan mitra program Makan Bergizi Gratis (MBG) meraup keuntungan bersih hingga Rp1,8 miliar per tahun.

    Wakil Kepala BGN Bidang Operasional, Sony Sonjaya, menegaskan bahwa narasi tersebut merupakan bentuk disinformasi yang tidak sesuai dengan skema teknis dan mekanisme pembiayaan program yang berlaku. Ia membantah asumsi bahwa mitra Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) memperoleh laba bersih sebesar Rp1,8 miliar setiap tahun.

    “Mitra mendapatkan untung bersih Rp1,8 miliar per tahun adalah asumsi fiktif yang tidak berdasar pada realitas bisnis dan investasi. Padahal, Rp1,8 miliar bukan keuntungan bersih, melainkan pendapatan kotor maksimal,” katanya di Jakarta, Sabtu (21/2), seperti dikutip dari Antara.

    - Advertisement -

    Sony menjelaskan bahwa angka Rp1,8 miliar tersebut merupakan estimasi pendapatan kotor maksimal yang dihitung dari Rp6 juta per hari dikalikan 313 hari operasional dalam setahun (dengan asumsi hari Minggu libur), sehingga totalnya mencapai sekitar Rp1,87 miliar per tahun.

    “Angka tersebut bukan laba bersih, melainkan pendapatan sebelum dikurangi biaya investasi, operasional, pemeliharaan, depresiasi, dan risiko usaha lainnya. Untuk memperoleh insentif tersebut, mitra wajib membangun SPPG sesuai petunjuk teknis 401.1 tahun 2026 yang menetapkan standar teknis sangat ketat,” katanya.

    Bersambung ke halaman selanjutnya –>

    Lebih lanjut, ia memaparkan bahwa mitra harus menyiapkan investasi awal yang tidak kecil. Modal yang dibutuhkan diperkirakan berkisar antara Rp2,5 miliar hingga Rp6 miliar, tergantung lokasi dan harga lahan, seperti di Jakarta, Bali, Batam, maupun Papua.

    Investasi tersebut mencakup pengadaan lahan seluas 500–800 meter persegi, pembangunan dapur industri sekitar 400 meter persegi, pemasangan 8–10 unit pendingin udara, 16 titik CCTV, hingga instalasi listrik tiga fase. Selain itu, mitra juga diwajibkan menyediakan sistem filtrasi air standar air minum, Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), lantai granit atau epoksi antibakteri, ruang tinggal karyawan, kantor operasional, serta peralatan masak skala industri.

    Tidak hanya itu, mereka juga harus memfasilitasi pelatihan tenaga relawan dan mengurus berbagai sertifikasi seperti Sertifikat Laik Hygiene dan Sanitasi (SLHS) serta sertifikasi halal. Sony juga menepis isu yang mengaitkan kepemilikan dapur MBG dengan kepentingan partai politik tertentu. 

    Menurutnya, tudingan bahwa program tersebut dirancang untuk membiayai partai politik tidak memiliki dasar yang kuat. Di sisi lain, polemik ini turut berkembang setelah Tiyo Ardianto mengaku mengalami intimidasi usai menyampaikan kritik terhadap program MBG. 

    Ia menyebut mulai menerima teror sejak 9 Februari, berupa pesan dari enam nomor luar negeri yang berisi ancaman penculikan hingga pembukaan aib pribadi. Pada 11 Februari, ia juga mengaku sempat diikuti orang tak dikenal saat berada di sebuah kedai.

    “Ada serangan karakter juga di media-media sosial. Saya mencatat ada empat. Dan saya rasa semua berangkat dari satu hal. Mereka berusaha mencari aib saya saran personal,” kata Tiyo dalam podcast Madilog bersama Indra J Piliang dikutip dari kanal YouTube Forum Keadilan TV. 

    Bersambung ke halaman selanjutnya –>

    - Advertisement -

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here