More

    Resmi Dikukuhkan sebagai Guru Besar FK UPH, Prof. Antonia Soroti Peran Kalsifikasi Koroner dalam Pencegahan Penyakit Jantung

    Prof. Antonia resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar FK UPH (28/03/2026) di Auditorium FK UPH. (ist)

    Penyakit Kardiovaskular (penyakit jantung dan pembuluh darah) masih menjadi tantangan kesehatan global, dengan data World Health Organization (WHO) mencatat pada tahun 2022 penyakit ini menyebabkan sekitar 19,8 juta kematian atau 32% dari total kematian dunia. Di Indonesia, prevalensi penyakit jantung juga meningkat signifikan, mencapai 1,08% atau sekitar 2,29 juta orang pada 2023, naik lebih dari dua kali lipat dibandingkan 2013.

    Fenomena ini mendorong pentingnya peran ahli dalam mengembangkan strategi pencegahan, yang menjadi fokus orasi ilmiah Ketua Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Ilmu Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah, Fakultas Kedokteran Universitas Pelita Harapan (FK UPH), Prof. Dr. dr. Antonia Anna Lukito, Sp.JP(K), FIHA, FAPSIC, FAsCC, FSCAI saat dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam bidang Ilmu Jantung dan Pembuluh Darah pada 28 Maret 2026 di Auditorium FK UPH berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Nomor 1785/M/KPT.KP/2026 tertanggal 1 Januari 2026.

    Peran Kalsifikasi Koroner dalam Deteksi dan Pencegahan Dini

    - Advertisement -

    Dalam orasi ilmiahnya yang bertajuk “Kalsifikasi Koroner: Jendela untuk Memahami Penuaan Dinding Arteri Menuju Pencegahan Kardiovaskular Berbasis Risiko” Prof. Antonia menyoroti peran krusial kalsifikasi koroner. Kalsifikasi koroner merupakan kondisi penumpukan kalsium pada dinding pembuluh darah arteri koroner yang menyuplai darah ke jantung, yang umumnya terjadi seiring proses penuaan dan paparan faktor risiko seperti hipertensi, diabetes, dan kolesterol tinggi. Kondisi ini bukan sekadar tanda kerusakan pada temuan radiologis, melainkan cerminan proses biologis yang berlangsung lama pada dinding arteri akibat berbagai faktor risiko kardiovaskular.

    Dalam paparannya, Prof. Antonia menjelaskan bagaimana kalsifikasi koroner dapat menjadi tanda atau “jendela” bagi klinisi untuk melihat proses penuaan arteri (arterial aging) yang sering kali berlangsung tanpa gejala selama bertahun-tahun. Dengan kemajuan teknologi pencitraan kardiovaskular, keberadaan kalsifikasi kini dapat diidentifikasi lebih dini, sehingga dokter dapat melakukan stratifikasi risiko, yaitu mengelompokkan pasien berdasarkan tingkat risiko penyakit jantung, secara lebih akurat.

    “Kalsifikasi koroner memberikan bukti anatomis nyata dari proses aterosklerosis, yaitu kondisi penyempitan dan pengerasan pembuluh darah akibat penumpukan plak. Semakin tinggi Tingkat kalsifikasi, semakin besar kemungkinan adanya plak aterosklerotik yang luas dan bermakna secara klinis. Karena itu, kalsifikasi koroner menjadi parameter objektif yang mampu merepresentasikan berbagai proses biologis dalam pembuluh darah,” jelas Prof. Antonia.

    Bila kehadiran kalsifikasi koroner menunjukkan bahwa proses aterosklerosis telah berjalan, maka sebaliknya, ketiadaan kalsifikasi dapat memberikan keyakinan klinis untuk lebih menekankan modifikasi gaya hidup dan pemantauan berkala. Dengan demikian, kalsifikasi koroner bukanlah pengganti penilaian klinis, melainkan alat pelengkap dalam proses pengambilan keputusan berbasis bukti. Pendekatan ini membuka peluang bagi strategi pencegahan perburukan penyakit kardiovaskular yang lebih personal dan berbasis risiko individu, sehingga intervensi gaya hidup maupun terapi medis dapat diberikan secara lebih tepat sasaran.

    “Pendekatan kalsifikasi koroner memberikan dimensi baru dalam pencegahan penyakit kardiovaskular, khususnya pada kelompok pasien dengan risiko menengah atau tidak pasti. Kita tidak lagi hanya bergantung pada faktor risiko konvensional, tetapi juga pada bukti langsung dari proses aterosklerosis untuk menentukan langkah terapi yang lebih tepat. Selain itu, pemahaman terbaru menunjukkan bahwa bukan hanya jumlah kalsium yang penting, tetapi juga karakteristiknya, seperti volume dan densitas, yang dapat mencerminkan stabilitas plak. Hal ini membuka peluang bagi pendekatan pencegahan yang lebih presisi, personal, dan berbasis dinamika penyakit,” papar Prof. Antonia.

    Peran Teknologi dan Relevansinya bagi Indonesia

    Bersambung ke halaman selanjutnya –>

    - Advertisement -

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here