
MALANG, KabarKampus – Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 dimaknai secara reflektif oleh Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Tidak sekadar seremoni tahunan, momentum 2 Mei dimanfaatkan Kampus Putih untuk menyampaikan kegelisahan terhadap arah kebijakan pendidikan nasional, sekaligus menegaskan komitmen institusi sebagai pusat solusi pendidikan yang berdampak nyata bagi masyarakat.
Sorotan utama dalam peringatan tahun ini adalah munculnya wacana penghapusan sejumlah program studi yang dianggap tidak lagi relevan dengan kebutuhan industri. Isu tersebut memantik diskusi kritis di lingkungan kampus dan menjadi salah satu tema utama dalam rangkaian refleksi Hardiknas UMM.
Melalui kegiatan bertajuk Pohon Harapan Pendidikan yang digelar di jembatan Gedung Kuliah Bersama (GKB) 1, sivitas akademika diajak menuliskan gagasan, keresahan, hingga harapan mereka terhadap masa depan pendidikan Indonesia. Aspirasi itu hadir dalam bentuk catatan-catatan reflektif yang menggambarkan kepedulian terhadap kualitas pendidikan yang dinilai tak boleh semata diukur berdasarkan kebutuhan pasar.
Rangkaian acara dikemas secara kreatif melalui pembacaan puisi, musikalisasi, penulisan aspirasi, hingga menyanyikan lagu-lagu nasional. Seluruhnya dirancang sebagai ruang ekspresi intelektual yang memadukan nilai estetika dan kritik sosial.
Wakil Dekan II Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UMM sekaligus penanggung jawab kegiatan, Dr. Faizin, M.Pd., menegaskan bahwa tema Menguatkan Pendidikan, Membangun Masa Depan dipilih untuk membangun kesadaran bersama mengenai pentingnya menjaga esensi pendidikan.
Menurutnya, wacana penghapusan program studi perlu ditelaah secara kritis agar tidak sekadar menjadi kebijakan efisiensi struktural. “Pendidikan memiliki dimensi kultural dan ideologis yang lebih luas, yang tidak selalu dapat diakomodasi oleh logika pasar. Refleksi ini adalah upaya mencegah pendidikan direduksi menjadi kepentingan pragmatis semata,” tutur Faizin sperti dikutip dari Jtim Satu News.
Ia juga menekankan bahwa keberhasilan pendidikan merupakan hasil kolaborasi banyak pihak, mulai dari keluarga, masyarakat, lembaga pendidikan, hingga sistem sosial yang menopangnya. “Jika tidak disadarkan secara kolektif, capaian pendidikan unggul tidak akan pernah muncul. Kebijakan pendidikan tidak bisa berdiri sendiri tanpa keterlibatan berbagai elemen,” tegasnya.
Bersambung ke halaman selanjutnya –>






