More

    E-Book, Solusi atau Sebatas Dilema?

    Landung Anandito – Universitas Bakrie
    Semenjak wacana mengenai pemanasan global (global warming) mengemuka di awal abad ke-21, penggunaan kertas memperoleh perhatian yang cukup signifikan. Kertas dinilai telah memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap pemanasan global melalui proses produksinya.

    Untuk satu kilogram kertas saja dibutuhkan tiga kilogram kayu, dan bisa dibayangkan berapa banyak hutan yang harus digunduli untuk memproduksi kertas setiap tahunnya. Di samping itu, limbah yang dihasilkan dari proses manufaktur dan bahan-bahan kimia yang digunakan oleh industri kertas juga turut menyumbang tingginya pencemaran lingkungan.

    Menanggapi hal tersebut, dunia bisnis yang berkaitan erat dengan kertas tentu perlu mengubah haluan. Buku termasuk pula di dalamnya. Para penerbit buku bereaksi dengan menciptakan inovasi buku yang berbasis elektronik, atau biasa disebut dengan electronic book (e-book).

    - Advertisement -

    Terlepas dari penggunaan kertas, e-book ditawarkan sebagai solusi atas permasalahan produksi buku kertas yang dianggap ikut menyebabkan pemanasan global. Sebagai contohnya, untuk memproduksi buku dengan 400 halaman, dibutuhkan 200 lembar kertas. Apabila jumlah produksi buku tersebut mencapai 5.000 eksemplar, maka dibutuhkan sejuta lembar kertas. Dengan e-book, produksi buku berapapun juga hanya membutuhkan satu file elektronik buku tersebut. Sekilas memang terlihat efisien. Namun apakah memang benar seperti itu?

    Sekarang mari kita asumsikan beberapa hal sebagai berikut: buku sejumlah 5.000 eksemplar di atas didistribusikan dalam bentuk e-book, dan setiap satu buku menghabiskan waktu sekitar 6 jam untuk selesai dibaca. Yang pertama, jelas dibutuhkan 5.000 alat elektronik untuk dapat membaca e-book tersebut. Yang kedua, sejumlah alat elektronik tersebut harus menyala selama 30.000 jam. Hal itu berarti dibutuhkan listrik untuk menyuplai energi alat elektronik tersebut selama digunakan untuk membaca.

    Kemudian yang menjadi pertanyaan adalah, apakah listrik tersebut tidak berhubungan sama sekali dengan pemanasan global?

    Ternyata listrik terjerembap dalam permasalahan yang sama seperti kertas. Studi terbaru menunjukkan bahwa sekitar 40% dari seluruh emisi karbon dioksida berasal dari pembangkit tenaga listrik yang terdiri dari gas alam, batubara, dan minyak bumi. Emisi karbon tersebut digadang-gadang oleh para ilmuwan sebagai salah satu penyebab utama pemanasan global. Kalau ternyata penggunaan e-book juga membutuhkan listrik, bukankah e-book belum bisa dikatakan solusi, namun hanya sebatas dilema?

    E-book sebagai solusi atau hanya sebatas dilema sebenarnya tergantung dari bagaimana cara kita menggunakan e-book tersebut. Dari sini, kita akan dihadapkan pada pilihan untuk memilih gaya hidup hijau (green lifestyle). Kita harus mengakui bahwa kertas dan listrik sama-sama memiliki sumbangan terhadap pemanasan global. Yang bisa kita lakukan adalah memperlakukan kertas dan listrik tersebut dengan bijak.

    Sebagai contoh, sertifikat yang dibuat dari kertas dapat diganti dengan sertifikat elektronik. Sebaliknya, file elektronik yang akan dibaca berkali-kali seperti lembar studi kasus dapat dicetak di kertas sekali untuk selamanya. Yang paling penting adalah cara kita untuk dapat seefisien mungkin menggunakan kertas dan listrik. Kalaupun kita lebih memilih e-book, maka kita harus segera mematikan perangkat elektronik setelah selesai membaca. Atau kalau kita menggunakan kertas, kita harus mendaur ulang kertas tersebut sehingga dapat berguna untuk kebutuhan lainnya.

    Kita memang tidak bisa menghilangkan pemanasan global dari planet ini. Namun, kita bisa mengurangi kemungkinan risiko pemanasan global di masa depan yang semakin besar. Pilihannya sekarang berada di tangan kita. []

    - Advertisement -

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here