More

    Membangun Karakter yang Memanusiakan Manusia

    Oleh RINTO BOUTI

    25 06 2013 foto RINTO BOUTI-UPISIAPA pun kita, dalam hidup ini berkecenderungan pada kebaikan dan berupaya meraihnya untuk mempertahankan derajat kemanusiaan. Dengan mencermati realitas hidup ini dengan baik, kita akan menemukan bahwa sesungguhnya kepribadian manusia bukanlah dinilai dari ukuran-ukuran fisik seseorang( misal: cantik/tidak, kaya/miskin, dll), asal daerah dan suku (misal: Papua, Sunda, Gorontalo dll), kebiasaan atau keturunanya. Keribadian sebenarnya adalah perwujudan dari cara berpikir dengan cara bertindak/berprilaku.

    Cara berpikir/pola pikir seseorang ditunjukkan oleh cara pandang/pemikiran yang ada pada dirinya dalam menyikapi/menanggapi berbagai pandangan/wacana/kejadian/pemikiran tertentu. Pola pikir pada diri seseorang tentu sangat ditentukan oleh nilai yang sangat mendasar dalam dirinya (ideologi/aqidah). Dari pola pikir inilah bisa diketahui bagaimana sikap, pandangan/pemikiran yang dikembangkan oleh sesorang untuk digunakannya dalam menanggapi berbagai fakta yang ada di lingkungannya baik fisik maupun non fisik. Misal: seseorang akan mengembangkan suatu ide/konsep seperti kebebasan, persamaan dan kesetaraan jika ideologi yang diyakininya membolehkan hal itu. Begitupun sebaliknya, ia akan mengembangkan hal sebaliknya jika ideologinya melarang hal tersebut.

    - Advertisement -

    Adapun cara bertindak (perilaku) adalah perbuatan-perbuatannya yang dilakukan seseorang dalam rangka memenuhi berbagai kebutuhan hidup baik biologis maupun naluriah. Pola perilaku pada diri seseorang juga sangat ditentukan oleh nilai yang sangat mendasar pada dirinya plus seberapa besar dia mendalaminya yang dibarengi dengan ketaatan. Seseorang akan makan atau minum apa saja dalam memenuhi kebutuhan biologisnya jika ideologi yang diyakininya membolehkan hal itu. Demikian juga dalam pemuasan naluri seskualnya dengan cara apa saja jika ideologi yang diyakininya membolehkan hal tersebut. Ia pun akan beribadah, berpakaian, bergaul dan berakhlak sesuai dengan keinginannya jika idologi yang diyakininya membolehkannya. Hal tersebut berlaku untuk sebaliknya.

    Pola pikir dan pola perilaku inilah sesunggunya menentukan corak/tipe/bentuk/ciri khas kepribadian seseorang. Karena pola pikir dan pola perilikau  ini sangat ditentukan oleh nilai yang paling mendasar/ideologi plus tingkat kedalaman serta keterikatannya pada ideologi itu.

    Idelolgi Kapitasilme akan membentuk masyaraktnya berkepribadian kapitasis-liberal. Ideologi Sosialisme akan mengarahkan pemeluknya berkepribadian sosialis-komunis, dan Ideologi Islam seharusnya menjadikan pemeluknya/umat islam/muslim berkepribadian Islami.

    Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa kerpribadian terbentuk disebabkan oleh pola pikir dan pola perilaku yang didasarkan pada ideologi tertentu (kapitalis/sosialis/islam/bahkan campuran dari ketiganya disadari atau tidak).

    Berbicara kepribadian Islam berarti  berbicara tentang sejauh mana orang Islam memiliki pola pikir yang islami dan pola perilaku yang islami. Pola pikir islami akan terbentuk dan kuat pada pemueluknya jika ia memiliki keyekinan yang benar dan kokoh terhadap idelogi/akidah Islam serta jiwa untuk memiliki ilmu-ilmu keislaman yang cukup untuk merespon berbagai ide, pandangan, kosep, dan atau pemikiran yang ada. Sedangakan pola perilaku islami terbentuk dan kuat jika seseorang menjadikan rambu-rambu islam sebagai cara dia dalam memenuhi kebutuhan biologis (makan, minum, berpakaian, dll) maupun kebutuhan naluriah (ibadah, seks, bergaul, dll).

    Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa seseorang dikatkan memiliki kepribadian Isalmi jika ia memeiliki pola pikir islami dan pola perilaku yang islami. Perlu disadari khususnya mereka yang muslim, bahwa setiap kita berpotensi memiliki kepribadian Islam itu, sebab dia datang dari yang Sang Pencipta yang mengetahui kelebihan dan kekurangan manusia yakni Tuhan yang menciptkan alam semesta, kehidupan, dan manusia. Lebih dari itu marilah kita merenungi firmanNya: “Barangsiapa mencari agama/jalan hidup/ideologi selain Islam, Maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama/jalan hidup/ideologi itu) dari padanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.”

    Jika kita berbicara akhirat, Allah hanya menyediakan dua tempat surga atau neraka. Surga dapat kita maknai bagi mereka yang beruntung, dan nereka bagi mereka yang rugi. []

    Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Pendidikan Matematika, Pendidikan Profesi Guru 2013, Fakultas Pendidikan Matematika dan IPA Universitas Pendidikan Indonesia.

    SUMBER : UPI

    - Advertisement -

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here