More

    Lika-Liku Mencari Tempat Tinggal di Australia

    Mai Nguyen and Erwin Renaldi

    Ketika Anda memutuskan untuk melanjutkan sekolah ke Australia, jauh dari dari orangtua, keluarga dan teman, bagaimana caranya mengetahui dengan siapa dan dimana Anda akan tinggal?

     Kami berbincang dengan pelajar dari Indonesia, Vietnam dan China mengenai keputusan yang mereka ambil dan bagaimana mereka menciptakan “zona nyaman” baru di Australia.
    Dinda Djodi dari Indonesia tinggal dengan lima orang mahasiswa lainnya di sebuah rumah
    Dinda Djodi. Dok Pribadi
    Dinda Djodi. Dok Pribadi

    Memutuskan untuk melanjutkan studi di Australia adalah sebuah keputusan besar bagi mahasiswi berasal dari Indonesia Dinda Djodi, 18. Saat ini, Dinda sukses menyambil belajar sambil mengerjakan pekerjaan rumah tangga dan tanggung jawab lainnya. Dia datang ke Australia bulan Februari tahun 2014 setelah diterima oleh Royal Melbourne Institute of Technology (RMIT) untuk melanjutkan diploma di bidang arsitektur dan desain bangunan.

    - Advertisement -

    Dinda menggangap menuntut ilmu di Australia adalah momen yang menyenangkan saat dia menyadari bahwa dia akan tinggal di negeri asing untuk beberapa tahun. “Tapi lalu saya menyadari bahwa saya akan tinggal sendiri tanpa bantuan dari ayah dan ibu, atau orang lain seperti yang saya alami di Jakarta,” dia bercerita.

    Dinda sekarang tinggal di sebuah apartemen bersama dengan pelajar lain di daerah suburb Carlton, Melbourne, yang jaraknya dengan kampusnya yang berada di pusat kota Melbourne bisa ditempuh dengan jalan kaki. Dia tinggal di apartemen itu dengan lima pelajar lainnya yang berasal dari negara lain.

    “Menyenangkan bisa tinggal dengan pelajar lain yang berasa dari berbagai negara, jadi saya bisa belajar mengenai kebudayaan mereka juga,” jelas Dinda. Teman seapatermen Dinda berasal dari China, Austria dan India.

    Di apartemen yang dia tinggali ada lima kamar, dengan satu kamar mandi dan sebuah dapur yang dilengkapi dengan hanya satu kulkas. Sebelum dia pindah, para penghuni rumah mengadakan rapat informal untuk membahas bagaiman mereka akan menjaga rumah agar tetap bersih dan rapi. “Sejauh ini tidak ada masalah besar..kami tinggal dengan damai. Kami saling menghormati satu sama lain dan kami saling mengetahu jadwal masing-masing, sehingga kami tidak perlu berebutan untuk menunggu giliran mandi,” tuturnya.

    “Saya memilih untuk tinggal dengan orang lain supaya saya tidak kesepian. Ada saat-saat dimana saya merasa capek dan saya ingin sendiri, dan teman-teman serumah saya berisik, tapi saya masih bisa menghadapi hal-hal seperti itu,” tambahnya.

    Mencari tempat tinggal bisa menjadi hal yang menakutkan bagi pelajar asing di Australia, tapi Dinda memberi beberapa saran.

    “Lebih baik jika kamu mencari tahu sebelum kamu meninggalkan negeri asalmu. Carilah sebanyak mungkin di Internet, tapi jangan buru-buru memutuskan. Hubungi agen atau pemilik apartemen, supaya kamu bisa tahu lebih banyak tentang tempat yang mereka sewakan. Tapi jangan juga menyewa di menit-menit terakhir, karena harganya akan jauh lebih mahal,” tutur Dinda.

    Sao Mai dari Vietnam tinggal di sebuah apartemen dengan beberapa mahasiswa lainnya
    Sao Mai. Foto. Dok Pribadi
    Sao Mai. Foto. Dok Pribadi

    Sao Mai sudah tinggal di Melbourne selama dua tahun dan saat ini dia memasuki tahun ketiga menjadi mahasiswi di Monash University di jurusan pemasaran dan keuangan. Sebelum dia datang ke Melbourne, Mai sudah memutuskan untuk menyewa sebuah apartemen daripada tinggal dengan keluarga lokal. Baginya, tinggal bersama dengan keluarga Australia memiliki beberapa kerugian

    “JIka kamu tidak beruntung, kami bisa saja tinggal jauh sekali dari universitasmu, biasanya di zone 2 ( menggunakan transportasi publik). Dan juga, kamu harus mengikuti jadwal keluarga tempat tinggalmu, yang bisa saja ketat,” Mai berkata.
    Dia juga tidak ingin tinggal di kampus karena disana mahal. Jadi, selama dua tahun terakhir, Mai telah tinggal di tiga apartemen berbeda dengan teman serumah yang berbeda-beda. Menyewa sendiri apartemen telah membuat Mai menjadi lebih dewasa.
    “Ketika saya tinggal dengan orang lain, tagihan listrik, air, gas dan internet akan dibagi rata ke seluruh penghuni rumah. Sehingga, saya belajar mengelola anggaran dan menghabiskan uang lebih hemat. Saya juga harus mengurusi hal-hal yang tidak pernah terlintas di kepala saya ketika saya di Vietnam,” jelas Mai.
    Mai mengingat pengalaman bagaimana dia merasa tertekan ketika harus mencari seseorang untuk mengambil alih sewa rumahnya. “Saya sedang sibuk dengan ujian dan saya harus mengiklankan rumah, dan kontak dan juga mengatur jadwal jika calon penyewa ingin melihat rumahnya. Banyak orang bertanya mengenai tempat yang saya tawarkan, tapi masalah lain muncul, baik dari pemilih rumah atau dari calon penyewa, membuat prosesnya menjadi melelahkan,” ujarnya.
    Dari pengalaman tersebut, Mai menyadari bahwa menandatangani kontrak jangka panjang (1 tahun) adalah sesuatu yang tidak akan dia lakukan lagi, karena kamu bisa saja berubah pikiran. “Cara terbaik adalah menandatangani kontrak jangka pendek dan kemudian memperpanjangnya jika kamu ingin tinggal lebih lama,” tambahnya.
    Menyewa rumah bersama orang lain juga memiliki tantangannya sendiri. Suatu ketika, Mai dan teman serumahnya berantem hebat setelah teman serumahnya itu mengeluh dirinya tidak bisa tidur karena Mai mencuci baju pada jam 6 pagi. Hal yang sama, Mai juga terganggu oleh teman serumahnya itu ketika dia berisik waktu bermain video game sepanjang malah. “Masalahnya adalah perbedaan gaya hidup.”
    Namun, Mai masih berpendapat bahwa menyewa rumah dengan orang lain adalah sebuah pengalaman positif dan juga sebuah kesempatan untuk menemukan teman baru dan mengembangkan jaringan. “Hal terbaik adalah kamu bisa mengadakan pesta di rumah dan melakukan apa yang kamu inginkan. Tidak ada penjaga yang memberitahumu apa yang harus dilakukan,” ucap Mai.
    Rena Shi dari China tinggal dengan keluarga Australia
    Rena Shi dari China tinggal dengan keluarga Australia. foto. dok pribadi
    Rena Shi dari China tinggal dengan keluarga Australia. foto. dok pribadi

    Ketika Rena Shi, seorang siswa berumur 17 tahun dari Beijing pertama kali tiba di Melbourne, dia merasa kecewa ketika tempat tinggalnya tidak seperti apa yang dia bayangkan di film-film Amerika.

    “Sebagai gadis yang berasal dari China, kamu punya banyak bayangan mengenai dunia barat dari film-film Amerika dan serial TV. Ini berbeda sekali. Rumahnya memiliki tempat tidur single dan sangat sederhana. Tapi keluarganya sangat baik,” jelasnya. Dan tidak berapa lama, Rena menemukan tantangan lainnya.

    “Makanannya, awalnya susah sekali. Saya menginginkan nasi setelah tiga hari tinggal. Makanan barat seperti steak, sumsum domba dan rebusan sayur…I sangat membencinya, tapi kemudian dia (ibu dirumah tempat tinggalnya) mencoba memasak masakan China dan saya sangat menghargainya,” ujar Rena Shi.

    Keluarga Bakker, tempat Rena tinggal, telah menerima begitu banyak pelajar asing untuk tinggal di rumah mereka. Rena menjelaskan mungkin itu menjelaskan kenapa mereka begitu sabar dengannya dan selalu membantu dirinya di beberapa hal, termasuk masalah bahasa.

    “Saya selalu membawa kamus elektronik kecil di saku saya karena terkadang saya memiliki masalah ketika berkomunikasi dengan mereka,” ujarnya.

    “Mereka juga sangat baik membantu saya dengan bahasa Inggris saya. Jika saya tidak mengerti apa yang mereka katakan, mereka akan bilang “Ayo, ambil kamus kecilmu dan saya akan menuliskannya dan kamu bisa melihat artinya.”

    Rena bilang dia menikmati pengalamananya tinggal di keluarga tersebut meski mengalami masa-masa awal yang sulit. Dia bilang tinggal dengan sebuah keluarga membuat keluarganya di China merasa aman, begitu tahu dia diawasi oleh keluarga yang memiliki anak seumuran Rena.

    David Bycroft, seorang ahli homestay, berkata bahwa hal-hal yang orang Australia ambil secara harafiah adalah hal yang sebenarnya para pelajar butuh dibantu.

    “Perusahaan kami menyediakan jasa 24 jam. Kami menerima telepon dari pelajar yang lupa bagaimana kembali kerumah mereka. Mereka pergi dengan teman mereka dan mereka tinggal di suburb, dan mereka berusaha untuk mengingat cara bagaimana kembali ke rumah mereka,” jelasnya.

    Saran utama darinya adalah tiba tepat waktu, karena tuan rumah terkadang kuatir ketika mereka datang terlambat. David juga menganjurkan para pelajar untuk berpartisipasi dalam kehidupan keluarga dan harus menikmatinya tapi mereka juga harus sadar akan tanggung jawabnya juga.

    “Penting buat mereka untuk berkontribusi dalam menyelesaikan pekerjaan rumah tangga. Mereka bukan saja penyewa yang tinggal di kamar tamu. Mereka adalah bagian dari keluarga tersebut. Jika kamu diberi kesempatan untuk ikut dalam acara keluarga pada akhir pekan, maka ikutlah. Sehingga kamu bisa menikmati pengalaman yang ditawarkan dan sekaligus berusaha membuatnya menjadi pengalaman yang menyenangkan buat semua orang,” ujar Rena Shi.[]

    - Advertisement -

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here