More

    Berkenalan Dengan Serangga Tongkat Raksasa di Museum Melbourne

    ABC AUSTRALIA NETWORK

    Serangga terbesar yang pernah ada di Australia, dibiakkan di penangkaran oleh Museum Melbourne. (Credit: ABC)
    Serangga terbesar yang pernah ada di Australia, dibiakkan di penangkaran oleh Museum Melbourne. (Credit: ABC)

    Museum Melbourne telah berhasil membiakkan beberapa serangga tongkat terpanjang di dunia, dalam sebuah program pembiakan pertama di Australia, yang diharapkan membantu untuk memastikan kelangsungan hidup spesies ini.

    Para pakar serangga di Museum Melbourne menghabiskan lebih dari satu tahun untuk membesarkan serangga tongkat raksasa (Ctenomorpha gargantua) di penangkaran, setelah menemukan seekor betina dari spesies ini, yang dinamai ‘Lady Gaga-ntuan’, pada tahun 2014.

    - Advertisement -

    Salah satu keturunan ‘Lady Gaga-ntuan’, kini, telah tumbuh menjadi serangga tongkat terpanjang yang pernah ada di Australia, dengan panjang 56,5cm, hanya selisih 2mm dari rekor dunia.

    Maik Fiedel dari Museum Melbourne mengatakan, generasi kedua dari spesies ini baru saja meletakkan telur mereka sendiri, yang ia harap akan tumbuh menjadi yang terpanjang di dunia.

    Ia mengatakan, ia yakin serangga jenis ini tersebar cukup luas di Queensland utara, tetapi sangat jarang terlihat.

    “Melihat ukuran binatang itu, sebenarnya cukup mengejutkan bahwa kami tak menemukannya lebih banyak lagi,” sebutnya.

    Maik mengutarakan, “Kami percaya ia lebih dari sekedar penghuni dahan pohon, hewan-hewan ini mencapai kematangan dan tinggal di dahan sampai mereka mati dan itu bisa mencapai 30 meter di hutan hujan, sehingga hal-hal seperti ini mungkin jarang terjadi tapi mereka bisa menjadi sangat umum hanya saja tak mungkin terlihat banyak.”

    “Betina pertama yang kami temukan dua tahun lalu itu, untungnya, berada pada semak setinggi tiga meter, dan sangat beruntung kami menemukannya karena ia tak bisa terbang lebih tinggi dari itu,” tambahnya.

    Spesies ini, meskipun panjang dan besar, memiliki masa hidup hanya satu tahun. Maik mengatakan, sebelum program pembiakan dilakukkan, sangat sedikit yang diketahui tentang spesies ini.

    “Kami belum tahu apa yang mereka makan di alam liar, berapa lama mereka hidup dan berapa banyak telur yang mereka hasilkan … pada dasarnya tak ada yang diketahui tentang biologi, ekologi dari binatang ini, sehingga pembiakkan atau penangkaran semuanya dilakukan dengan ‘trial and error’,” sebutnya.

    Ia mengutarakan, “Saya sudah mengaturnya agar sangat mirip dengan bagaimana saya biasanya membesarkan serangga tongkat, dalam hal inkubasi, dan saya telah berhasil menetaskan hewan ini setelah enam bulan.”

    “Itu luar biasa, karena ini lebih tentang pembelajaran dan memahami hewan itu dan membuka jalan bagi generasi mendatang dalam hal pembiakan hewan itu, untuk bisa memiliki jumlah populasi yang aman di penangkaran agar museum mampu mempelajari hewan itu,” ungkapnya. []

    - Advertisement -

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here