More

    Dua Warga Selandia Baru Luncurkan Buku Dongeng Bertema LGBT

    ABC AUSTRALIA NETWORK
    Eliza Buzacott-Speer

    Adam Reynolds (kiri) dan Chaz Harris (kanan)
    Adam Reynolds (kiri) dan Chaz Harris (kanan)

    Sebuah buku dongeng bertema LGBT akan resmi diterbitkan. Buku ini menceritakan kisah seorang pangeran bernama Leo dan peternak bernama Jack. Keduanya bertemu dan jatuh cinta.

    Cerita Promised Land ditulis oleh Adam Reynolds dan Chaz Harris yang berbasis di kota Wellington, Selandia Baru. Tema dalam buku ini digambarkan sebagai “cerita fantastis tentang persahabatan, petualangan, tanggung jawab dan cinta”.

    - Advertisement -

    Kedua penulis kemudian mencari dana untuk bisa mewujudkannya. Lantas munculah ide untuk mencarinya lewat crowfunding, yakni pendanaan lewat patungan atau urunan secara online.

    Pendanaan lewat situs ‘Kickstarter’ diharapkan dapat digunakan untuk biaya ilustrasi, desain dan pencetakan buku.

    Dana yang mereka butuhkan, senilai AU$ 22.500, atau sekitar Rp 225 juta akhirnya tercapai pada Selasa pagi (12/04/2016). Bahkan uang yang dikumpulkan telah mencapai lebih dari Rp 270 juta, melebihi target semula.

    Harris, penulis yang juga seorang pembuat film, mengaku senang karena target pendanaan bisa tercapai. “Senang saat tahu banyak yang tertarik dengan buku ini yang ternyata juga sudah lama ditunggu,” ujarnya kepada ABC.

    Harris mengatakan motivasinya untuk menulis cerita sesama jenis ini berasal dari salah satu episode talkshow ‘Ellen DeGeneres Show’ di tahun 2008.

    Episode tersebut mengangkat cerita Larry King, mahasiswa berusia 15 tahun di Amerika Serikat yang dibunuh oleh teman sekelasnya. Korban dibunuh karena telah meminta si pelaku untuk menjadi ‘teman kencan’-nya di Hari Valentine.

    “Pesannya sangat mengerikan, bahwa Anda bisa dibunuh jika menjadi gay, kami ingin mengubah pesan itu,” katanya.

    “Ketika saya mendengar Adam soal konsep awal, saya kemudian sadar bahwa kita setidaknya bisa menjadi bagian kecil untuk mengubah pesan,” katanya.

    “Konflik ceritanya bukan karena seseorang yang mengaku gay atau seseorang yang berjuang dengan identitas seksualitas mereka, jadi seksualitas tidak dipertanyakan dalam hal ini,” tambahnya.

    “Karakter ini hanya kebetulan dua pemuda yang jatuh cinta, sama seperti halnya tokoh-tokoh dalam beberapa dongeng lain.”

    Harris berpendapat pentingnya sosok lesbian, gay, biseksual, transgender dan intersex untuk bisa mewakili sebuah cerita, baik di media cetak maupun elektronik, seperti halnya tokoh-tokoh heteroseksual.

    “Waktu kita kecil, begitu banyak hal yang kita lihat melalui media atau dari orang tua sendiri, yang kemudian membentuk opini dan sikap kita terhadap orang lain…” katanya.

    Harris juga mengatakan pentingnya bagi anak-anak memiliki karakter gay, dimana mereka bisa merasa ada hubungannya.

    “Ada sedikit cerita bagi orang tua agar bisa mendiskusikan soal berbagai jenis hubungan antara manusia bagi anak-anak,” katanya.

    “Saat orang-orang mempertanyakan ‘layakah’ anak-anak berusia lima hingga 10 tahun mengetahui hubungan sesama jenis, cepat atau lambat anak-anak pun akan menanyakan hal yang sama, dan bahkan tidak akan pernah nyaman untuk didiskuiskan dengan orang tua.”

    Harris mengaku jika ia telah melalui masa yang sulit saat berada sekolah dengan intimidasi dan ketidaknyamanan dengan menjadi gay.

    “Jika mereka kemudian sadar bahwa ada cerita saat mereka kanak-kanak [soal hubungan sesama jenis], maka mereka akan bepikir: ‘Tidak apa-apa, karena artinya saya akan seperti Pangeran Leo dan dia mengagumkan’.”

    Rencananya, buku ‘Promise Land’ akan dirilis 11 Oktober mendatang, bertepatan dengan Coming Out Day, atau hari memperingati pengakuan dan keberadaan LGBT. []

    - Advertisement -

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here