More

    Penggunaan Obat Anti-Depresi Dinilai Tak Efektif

    AUSTRALIA PLUS INDONESIA

    Obat-obatan seharusnya digunakan dengan perawatan lain untuk menangani depresi. (Foto: Darren Staples, Reuters) (Credit: Reuters)
    Obat-obatan seharusnya digunakan dengan perawatan lain untuk menangani depresi. (Foto: Darren Staples, Reuters) (Credit: Reuters)

    Para dokter di Australia tengah didesak untuk mempertimbangkan pengobatan lain bagi depresi dan kecemasan selain obat anti-depresi.

    Australia memiliki salah satu tingkat penggunaan obat anti-depresi tertinggi di dunia, dengan lebih dari 1 dari 10 orang menggunakan obat ini –naik dua kali lipat dari tahun 2000.

    - Advertisement -

    Sebuah laporan baru di Jurnal Medis Australia mengatakan, walau penggunaan obat anti-depresi terus meningkat, ada bukti yang berkembang bahwa obat ini tak seefektif yang dipikirkan.

    Dr Christopher Davey, yang menulis laporan ini dengan Dr Andrew Chanen, mengatakan, kesenjangan antara respon terhadap obat-obatan dan placebo (obat tak aktif/pil gula) kini menyempit.

    “Mungkin ada tiga alasan utama [dari jatuhnya efektivitas obat anti-depresi],” tuturnya.

    Ia menjelaskan, “Secara historis, [ada] sudah banyak percobaan negatif yang tak menunjukkan bahwa obat anti-depresi lebih efektif daripada plasebo dan mereka terkubur dan tak pernah dipublikasikan. Para peneliti telah memegang hasilnya sekarang.”

    “Kedua, uji coba yang dilakukan untuk anti-depresi umumnya dilakukan pada pasien dengan penyakit yang lebih parah dan kompleks, di mana mungkin mereka kurang efektif,” sambungnya.

    Ia meneruskan, “Alasan ketiga adalah bahwa respon placebo tampaknya akan semakin lebih kuat, yang merupakan fenomena yang benar-benar membuat penasaran.”

    Obat masih lebih efektif ketimbang pil gula
    Dr Christopher mengatakan, ia tak menyarankan orang yang diresepkan anti-depresi harus berhenti menggunakannya.

    “Saya ingin menekankan …studi ini menunjukkan bahwa, secara keseluruhan, obat anti-depresi lebih efektif ketimbang placebo (pil gula). Jadi saya akan mengatakan kepada orang-orang, teruskan pengobatan itu. Tapi saya juga akan mengatakan kepada mereka, ketika mereka merasa obat itu belum membantu, bahwa mereka harus kembali ke dokter dan tanyakan apakah sang dokter telah mengkaji obat itu,” kemukanya.

    Ia lalu berujar, “Juga ketika mereka belum menemui terapis, [dokter bisa] lihat apakah mereka bisa menemui terapis.”

    Dr Christopher mengatakan, keyakinan masyarakat dalam kemanjuran obat anti-depresi bisa terkait dengan respon placebo yang menguat.

    “Sebuah komponen besar dari respon placebo adalah harapan bahwa Anda akan lebih baik [karena] obat-obatan tersebut,” sebutnya.

    Ia menerangkan, “Terlepas dari apa yang kami temukan, bahwa secara keseluruhan obat mungkin kurang efektif dari yang selama ini dipikirkan, saya kira dalam masyarakat, mungkin, ada harapan bahwa pil akan membantu. Jadi respon placebo semakin kuat.”

    Dr Christopher menuturkan, obat anti-depresi seharusnya digunakan dalam kombinasi dengan perawatan lain seperti psikoterapi.

    Olahraga teratur dan makan makanan yang sehat juga bisa membantu orang dengan depresi. []

    - Advertisement -

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here